Jakarta, Pahami.id —
Sejumlah petugas Israel dikatakan telah mengungkapkan kekesalannya karena Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv digunakan sebagai pangkalan militer AS selama perang melawan Iran.
Kepala Penerbangan Sipil Israel Shmuel Zakay melaporkan kepada Menteri Transportasi Miri Regev dan Direktur Jenderal Menteri Moshe Ben Zaken bahwa aktivitas militer di bandara internasional seringkali menyebabkan tertundanya jadwal pesawat penumpang dan menyebabkan harga tiket melonjak menjelang puncak musim turis.
Media Israel Yedioth Ahronoth melaporkan, dalam beberapa pekan terakhir puluhan pesawat militer AS termasuk jet pengisi bahan bakar diparkir di Bandara Ben Gurion selama perang dengan Iran, dikutip dari Pemantau Timur Tengah (MEMO).
“Mengubah Bandara Internasional Ben Gurion menjadi pangkalan militer sangat membahayakan pengembalian pesawat penumpang internasional dan mengancam stabilitas keuangan maskapai penerbangan Israel,” kata Zakay.
Perang antara AS-Israel dan Iran sejak 28 Februari berdampak besar pada penerbangan sipil. Banyak maskapai penerbangan Israel memindahkan pesawat ke luar negeri. Beberapa dari mereka belum kembali.
Zakay mencatat, militer Israel tidak sepenuhnya memahami kekacauan penerbangan sipil dan harga tiket yang disebabkan oleh kehadiran pesawat militer di bandara sipil.
“Bandara Ben Gurion telah menjadi pangkalan militer dengan aktivitas sipil yang terbatas,” ujarnya.
Zakay juga memperingatkan bahwa situasi ini menimbulkan “ancaman serius” bagi maskapai penerbangan kecil Israel, termasuk Israir, Arkia dan Air Haifa, karena meningkatnya biaya operasional dan bahan bakar serta meningkatnya permintaan penerbangan.
Dia menyerukan pemindahan pesawat AS dari Bandara Ben Gurion ke pangkalan militer, dengan mengatakan bahwa situasi saat ini tidak hanya merugikan maskapai penerbangan tetapi juga “semua warga negara.”
(membaca)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

