Jakarta, Pahami.id —
Pendiri Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal jelaskan peran penting alias kekuatan menengah kekuatan menengah di tengah ketidakpastian global.
Negara-negara yang tergolong kekuatan menengah tergabung dalam MIKTA yang merupakan singkatan dari negara-negara anggota yang meliputi Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia.
MIKTA didirikan di luar Sidang Umum PBB ke-68 di New York pada tahun 2013.
“Ini adalah dunia di mana banyak terjadi realignment, kalibrasi ulang, dan di sinilah kekuatan menengah mulai berperan. Karena banyak kekosongan, banyak kekosongan, dan kekuatan menengah mempunyai kapasitas dan kemauan untuk memainkan perannya,” kata Dino dalam diskusi Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) bertajuk MIKTA di Crossroads Dunia 2/2, Kamis lalu.
Dalam diskusi yang tergabung dalam program Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan oleh FPCI dan Korea Foundation, Dino menjelaskan situasi geopolitik saat ini semakin tidak menentu, dan negara adidaya seperti Amerika Serikat memiliki kecenderungan untuk keluar dari organisasi kesehatan internasional (WHO) bahkan menarik diri dari Perjanjian Paris.
Menurutnya, tindakan AS berdampak besar terhadap situasi global di berbagai sektor. Menurut Dino, itulah perbedaan negara middle power dan negara superpower.
Dino mengatakan, salah satu perbedaan negara mayor power dan middle power adalah negara middle power mempunyai visi dan fokus tersendiri terhadap isu-isu.
Ia mencontohkan Brasil di bawah kepemimpinan Presiden Lula Da Silva yang sangat aktif memimpin isu perubahan iklim.
Belakangan, India mencoba menjadi pemimpin di antara negara-negara Selatan.
“Jadi, kekuatan menengah punya ambisi dan peran yang a la carte. Mereka tidak bisa melakukan semuanya, tentu saja Amerika Serikat juga tidak bisa. Tapi cara terbaik bagi mereka adalah a la carte dan bilateral,” ujarnya.
Dino meyakini MIKTA juga berpotensi menjadi kekuatan potensial di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, hal tersebut tidak lepas dari letak geografis negara-negara anggota MIKTA yang tersebar hampir di seluruh penjuru dunia.
“Ini bukan hanya satu wilayah, tapi lintas wilayah, dan merupakan kelompok kekuatan antara utara dan selatan,” ujarnya.
Meski begitu, Dino menegaskan, yang terpenting bagi anggota MIKTA adalah memiliki tujuan yang sama. Dia mengatakan tujuan bersama adalah kuncinya.
Ia pun mencontohkan organisasi internasional lainnya seperti Uni Eropa dan ASEAN, menurutnya kuat karena negara-negara anggotanya memiliki tujuan yang sama.
“G7 itu kuat kenapa? Karena punya tujuan yang sama, pertanyaannya apakah MIKTA punya tujuan yang sama kuatnya? Karena dengan memiliki tujuan yang sama, Anda bisa bergerak cepat, Anda bergerak lebih cepat dengan cara yang bermakna, karena memiliki alasan yang nyata untuk bertahan dan maju berdasarkan tujuan yang sama,” ujarnya.
(mnf/rds)

