Jakarta, Pahami.id —
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres khawatir dengan eskalasi militer di Timur Tengah, terutama munculnya ‘front baru’ konflik, pada Selasa (3/3).
Front baru merupakan perluasan konflik ke wilayah atau pihak lain di luar wilayah pertempuran utama sebelumnya.
Mengenai situasi di Timur Tengah, saya dapat mengatakan dan hal ini tentu tidak mengherankan, bahwa Sekjen terus memantau perkembangan di kawasan dengan penuh perhatian, kata juru bicaranya, Stephane Dujarric dalam konferensi pers yang dikutip Anadolu Agency.
Dia menambahkan, kematian warga sipil terus meningkat dan dampak kemanusiaan semakin dirasakan oleh masyarakat di seluruh kawasan akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dujarric menyerukan perlindungan bagi warga sipil dan pekerja kemanusiaan serta menekankan komitmen PBB untuk terus membantu masyarakat di wilayah tersebut.
Menurutnya, operasi kemanusiaan terhambat karena ketidakstabilan keamanan, gangguan rantai pasokan, dan penutupan wilayah udara. Pergerakan pekerja bantuan masih dibatasi, sementara hukum humaniter internasional tidak bisa dinegosiasikan.
Dujarric juga mengatakan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk berpotensi berdampak besar terhadap perekonomian global yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Menanggapi serangan sekolah di Iran selatan yang menewaskan lebih dari 160 anak sekolah dalam serangan AS-Israel, Dujarric menegaskan tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk mengutuk kematian anak-anak tersebut.
Beliau menekankan bahwa kematian anak-anak dalam konflik adalah sebuah tragedi yang harus dikutuk dengan keras dan akuntabilitas harus diikuti bagi korban sipil dalam konflik ini dan konflik lainnya.
Ketegangan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada hari Sabtu, menewaskan hampir 800 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Teheran kemudian membalasnya dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel dan beberapa negara Teluk tempat aset militer AS berada.
(rnp/bac)

