Jakarta, Pahami.id —
Kementerian Luar Negeri membenarkan keterlibatan anggota Indonesia dalam Pasukan Stabilisasi InternasionalISF), hanya akan menjalankan mandat terbatas di Gaza dan tidak akan bersifat tempur.
Direktur Perdamaian dan Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Caka Alverdi memastikan pasukan Indonesia hanya akan ditempatkan di Jalur Gaza, Palestina.
“Dari peringatan nasional kita, saya sampaikan beberapa hal, seperti mandat non-tempur dan non-demiliterisasi. Tidak menyasar pihak mana pun. Penggunaan kekuatan sangat terbatas. Wilayah penugasan di Gaza terbatas,” kata Caka dalam media briefing di Kementerian Luar Negeri, Jumat (27/2).
Ia juga menambahkan, penugasan tersebut hanya bisa dilakukan dengan persetujuan Palestina. Indonesia juga menolak segala bentuk perubahan demografi.
Perjanjian Palestina adalah prasyarat. Menolak perubahan demografi dan pemindahan paksa. Menghormati kedaulatan dan hak untuk menentukan nasib sendiri, ujarnya, seperti dikutip detikcom.
Caka menegaskan, keikutsertaan Indonesia dalam ISF juga dapat dihentikan sewaktu-waktu jika diperlukan.
“Dan yang terakhir, yang paling penting, bisa dihentikan kapan saja,” ujarnya.
Sebelumnya, pada pertemuan perdana Board of Peace (BoP) di Washington DC, Amerika Serikat, Komandan ISF Mayjen Jasper Jeffers menawarkan posisi wakil komandan kepada Indonesia.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmennya mengirimkan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai bagian dari ISF untuk mengendalikan konflik Palestina-Israel.
“Pencapaian gencatan senjata ini nyata. Kami siap mengerahkan pasukan ini untuk berpartisipasi aktif dalam Pasukan Stabilisasi Internasional untuk menjamin keberhasilan perdamaian ini,” kata Prabowo.
Ia juga kembali menegaskan, keanggotaan Indonesia di BoP semata-mata untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
“Kami menegaskan komitmen kami untuk menyumbangkan pasukan dalam jumlah besar, jika diperlukan sebanyak 8.000 personel atau lebih,” kata Prabowo dalam pidatonya.
(rnp/dna)

