Berita Heboh Lubang ‘Jalan ke Mekkah’ di Gunung Jati, Ini Fakta Sebenarnya

by
Berita Heboh Lubang ‘Jalan ke Mekkah’ di Gunung Jati, Ini Fakta Sebenarnya


Jakarta, Pahami.id

Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati di Kampung Astana, Cirebon, mendadak riuh. Sebuah lubang persegi dengan pagar besi berwarna merah menjadi fokus setelah narasi mistik yang menyebutnya sebagai “jalan pintas” menuju Mekkah menjadi viral di media sosial.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @reset.feeds, terlihat seorang pemandu menjelaskan kepada rombongan peziarah bahwa lubang berisi tumpukan batu alam dan taburan bunga itu merupakan akses ajaib yang pernah digunakan Wali.

Namun rumor tersebut dengan cepat ditepis oleh pihak berwenang setempat. Nasirudin, Petugas Kunci (Nama) Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati, menegaskan narasi tersebut tidak memiliki dasar sejarah atau logika yang benar.


Yang viral kemarin sebenarnya salah total. Cerita tempat itu tembus ke Mekkah, atau seperti jalan gaib, tidak benar, kata Nasirudin saat ditemui di lokasi, Sabtu (10/1), Memetik Detik.

Nasirudin menyayangkan munculnya informasi menyesatkan tersebut. Menurut dia, keributan ini disebabkan oleh oknum pemandu haji yang tidak memiliki pemahaman sejarah secara utuh dan masih belum kompeten.

Ia meminta masyarakat dan jamaah haji tidak mudah percaya pada klaim mistik yang tidak berdasar. Nasirudin menyarankan pengunjung hanya berinteraksi dengan pejabat resmi yang mengenakan pakaian adat.

“Yang viral itu sopirnya yang masih belajar. Tanya langsung ke penjaga makam agar tidak ada salah paham sejarah. Petugas kami siap 24 jam,” kata pria yang mengawasi 121 penjaga makam itu.

Selain soal jalur menuju Mekkah, Nasirudin juga menjelaskan istilah ‘Pusar Bumi’ yang sering dikaitkan dengan lokasi lubang tersebut. Banyak orang mengartikannya secara harafiah sebagai lubang menembus jantung bumi.

“Pusat bumi bukan pusat dunia, melainkan titik nol bukit di Astana Gunung Jati. Jadi, bukan lubang yang menembus jantung bumi, apalagi jalan menuju Mekkah,” jelasnya.

Tegasnya para Wali dalam menyebarkan Islam selalu mengedepankan syariat dan akal, bukan ajaran yang di luar nalar manusia. Lokasi ini sebenarnya adalah tempat spiritual untuk berdoa dan mendoakan kedamaian batin.

Meski narasi ini menarik perhatian banyak orang, namun tidak semua jamaah menelan ludah cerita mistis yang beredar. Haryadi (49), jemaah asal Kecamatan Plumbon, mengaku meragukan keberadaan koridor lintas alam tersebut.

Logikanya, ruang sempit itu transparan sekali sehingga kita tidak tahu. Apakah itu lubang biasa atau saluran air, kata Haryadi.

Meski demikian, ia tetap mengapresiasi kesucian lokasi tersebut sebagai bagian dari situs keagamaan. “Kalau kaitannya dengan Wali, saya tetap hormati. Itu kembali ke individu masing-masing,” tutupnya.

(sels/sel)