Jakarta, Pahami.id —
Iran jalur komunikasi terbuka dengan Amerika Serikat di tengah demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Tanah Air, Senin (12/1).
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, terbuka jalur antara Iran dan utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, meski kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik.
“Saluran komunikasi antara Menteri Luar Negeri kami (Abbas Araghchi) dan utusan khusus AS tetap terbuka,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei seperti dikutip. AFP.
“Pesan dipertukarkan bila diperlukan,” katanya.
Baghaei juga menegaskan, meski AS tidak memiliki perwakilan diplomatik di Iran, namun kepentingan Washington tetap diwakili oleh Kedutaan Besar Swiss.
Sebelumnya, pada hari Minggu, Trump mengatakan Iran ingin bernegosiasi setelah sebanyak 500 pengunjuk rasa tewas akibat tindakan keras pihak berwenang di negara tersebut.
“Pemimpin Iran menelepon (kemarin),” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One.
“Pertemuan sedang direncanakan. Mereka ingin bernegosiasi,” tambahnya.
Pusat Hak Asasi Manusia di Iran (CHRI) yang berbasis di AS mengatakan mereka telah menerima laporan mengenai “ratusan pengunjuk rasa” yang terbunuh di seluruh Iran sejak pembatasan internet diberlakukan.
“Pembantaian sedang berlangsung,” kata badan tersebut.
Selama dua minggu, Iran dilanda gelombang protes yang terus meningkat meskipun kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa tindakan keras yang dilakukan pihak berwenang telah berubah menjadi “genosida”.
Demonstrasi tersebut, yang dimulai dengan kemarahan atas meningkatnya biaya hidup, kini telah berkembang menjadi tantangan besar terhadap sistem teokratis yang telah berkuasa sejak revolusi tahun 1979.
(rnp/bac)

