Jakarta, Pahami.id —
Kedutaan Amerika Serikat mengizinkan pegawai pemerintah yang tidak penting dan anggota keluarganya untuk segera pergi Israel karena risiko keamanan dan alasan keamanan.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh Kedutaan Besar AS di Yerusalem, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan serangan militer AS terhadap Iran dalam waktu dekat.
Dilansir Reuters, dalam pengumuman tersebut Kedutaan Besar AS tidak menjelaskan risiko keamanan yang dimaksud.
Staf kedutaan diberi pilihan untuk segera meninggalkan Israel atau tetap tinggal. Langkah ini berbeda dengan kewajiban evakuasi yang sebelumnya diterapkan bagi staf Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon
“Pada tanggal 27 Februari 2026, Departemen Luar Negeri mengizinkan keberangkatan non-darurat pegawai pemerintah AS dan anggota keluarga mereka dari Misi Israel, karena risiko keamanan,” demikian pemberitahuan di situs Kedutaan Besar AS di Yerusalem.
“Semua orang mungkin ingin mempertimbangkan untuk meninggalkan Israel, selagi penerbangan komersial masih tersedia,” lanjut pemberitahuan itu.
AS terus memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah selama beberapa waktu, di tengah perundingan nuklir putaran ketiga yang baru saja digelar di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2).
Baru-baru ini, AS mengirim enam pesawat pengisian bahan bakar tambahan ke Bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv.
Awal pekan ini, beberapa pesawat pengisian bahan bakar dan kargo militer AS juga terlihat di bandara yang sama. Pengerahan tersebut menyusul kedatangan 11 jet tempur siluman F-22 di Pangkalan Udara Ovda di Israel selatan.
Dalam beberapa minggu terakhir, puluhan jet tempur AS, termasuk F-35, F-22 dan F-16, serta pesawat logistik dan kargo militer dilaporkan telah pindah ke wilayah tersebut.
Selain itu, kapal induk USS Gerald R. Ford juga meninggalkan pangkalan AS di Pulau Kreta, Yunani, untuk mendukung USS Abraham Lincoln yang sebelumnya berada di Timur Tengah.
Sejumlah negara lain juga mulai menarik anggota keluarga staf diplomatik dan personel non-esensial dari beberapa lokasi di Timur Tengah. Mereka juga mengimbau warganya untuk menunda perjalanan ke Iran, karena ketegangan di kawasan meningkat.
(rnp/dna)

