Berita 3 Bulan Usai Bencana, 8 Desa di Tapteng-Tapsel Masih Sulit Ditembus

by
Berita 3 Bulan Usai Bencana, 8 Desa di Tapteng-Tapsel Masih Sulit Ditembus


Medan, Pahami.id

Banjir dan bencana tanah longsor yang melanda Sumatera Utara (Sumut) pada 25 November 2025 masih menyisakan permasalahan.

Meski bencana sudah berlalu tiga bulan, delapan desa di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) masih sulit dijangkau.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sumut Basarin Yunus Tanjung mengatakan, di Tapanuli Utara, kawasan yang sulit dilalui adalah Kampung Rura Julu Toruan di Kecamatan Sipaholon.


Kemudian Kampung Tengah, Kampung Huta Tua, dan Kampung Huta Julu Parbaik di Kecamatan Parmonangan.

Sedangkan di Tapanuli Tengah, wilayah dengan akses terbatas berada di Kecamatan Tukka dan Sibabangun, antara lain Desa Saur Manggita, Desa Sait Kalangan Dua, Desa Sigiring-giring, dan Desa Sibio-bio.

Basarin menegaskan, wilayah tersebut tidak sepenuhnya terisolasi. Penghuni masih bisa menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki. Namun kendaraan roda empat masih belum bisa masuk karena kondisi jembatan dan jalan belum pulih sepenuhnya.

Daerah yang aksesnya terbatas tidak terisolasi. Daerah tersebut masih bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua dan berjalan kaki. Namun, tidak untuk kendaraan roda empat, kata Basarin, Kamis (26/2).

Jembatan Rampo

Ia juga menjelaskan, pemerintah bersama TNI telah membangun 10 jembatan rampo di beberapa titik terdampak. Delapan jembatan telah rampung, sedangkan dua lainnya masih dalam tahap penyelesaian.

Namun banjir susulan pada tanggal 11 dan 16 Februari menyebabkan jembatan eksisting bergeser dan rusak.

Namun karena terjadi banjir lagi pada tanggal 11 dan 16 Februari, satu jembatan kembali berpindah dan rusak, namun akan kami perbaiki, jelasnya.

Selain membangun jembatan, petugas juga membersihkan dan menggali material longsor yang menimbun jalan desa. Basarin berharap proses perbaikan bisa selesai pada Maret ini asalkan kondisi cuaca bagus.

“Kalau cuaca mendukung, Maret bisa rampung pengerjaannya, kita harapkan cuacanya mendukung,” kata Basarin.

Jembatan rampo dibangun menggunakan konstruksi besi dengan pelat penahan di sisi kiri dan kanan, kemudian bagian atasnya diisi tanah agar kendaraan dapat melewatinya. Bahan-bahannya disediakan oleh Pemerintah Provinsi Sumut, sedangkan peralatan dan dukungan teknisnya berasal dari TNI.

“Ini yang kita bangun bekerjasama dengan TNI, bahannya dari Pemprov dan peralatannya dari TNI, mudah-mudahan nanti bisa digunakan roda empat untuk mengangkut stok pangan,” kata Basarin.

Seiring berulangnya banjir pada 11 dan 16 Februari, kata Basarin, Pemda Sumut juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut. Upaya ini dilakukan agar curah hujan tidak terkonsentrasi pada satu titik.

“Operasi modifikasi cuaca ini sudah kami lakukan pada 18-21 Februari lalu di dua titik yaitu Bandara Silangit dan Bandara Kualanamu. Kami berharap dengan operasi modifikasi cuaca ini beberapa hari ke depan tidak ada lagi hujan di Tapteng,” kata Basarin.

Diketahui, banjir dan tanah longsor berdampak pada 479.047 KK atau 1.803.725 jiwa. Hingga saat ini, masih ada 909 KK atau 3.506 jiwa yang mengungsi di pengungsian. Sedangkan 376 orang meninggal dunia, 4 orang luka-luka, dan 40 orang hilang.

(fnr/anak)