Site icon Pahami

7 Dampak Perjanjian Aqabah 2 bagi Perkembangan Islam

7 Dampak Perjanjian Aqabah 2 bagi Perkembangan Islam

Bai’at Aqabah merupakan sebutan untuk ikrar setia yang diucapkan penduduk Yastrib kepada Rasulullah SAW. Dua bai’at ini menjadi titik awal proses hijrah Nabi Muhammad SAW beserta kaum muslimin dari Mekkah menuju Yastrib.

Secara bahasa, kata “Aqabah” berarti jalur gunung atau jalan menanjak yang harus dilalui untuk sampai ke puncak. Nama ini melekat karena kedua bai’at berlangsung di sebuah jalur gunung antara Mina dan Mekah, dengan jarak sekitar lima kilometer dari Mekah.

Latar Belakang Terjadinya Perjanjian Aqabah II

Setelah perjanjian Aqabah pertama, dakwah Islam terus berkembang di kalangan penduduk Yastrib. Mush’ab bin Umair, mubaligh yang ditunjuk Nabi untuk berdakwah di Yastrib, kembali ke Mekkah pada tahun berikutnya. Ia membawa serta sekelompok penduduk Yastrib yang belum memeluk Islam untuk bertemu langsung dengan Rasulullah.

Rombongan inilah yang kemudian ikut serta dalam bai’at Aqabah II. Nabi Muhammad SAW melaksanakan perjanjian ini pada 622 SM, tepatnya pada tahun kenabian ketiga belas, setahun setelah Aqabah I.

Sebanyak 73 pria dan 2 wanita dari Yastrib hadir dalam pertemuan tengah malam tersebut. Dua wanita itu bernama Nusaibah binti Ka’ab dan Asma’ binti ‘Amr bin ‘Adiy.

Rasulullah datang ke Aqabah bersama sang paman, Al Abbas bin Abdil Muthalib, yang saat itu belum memeluk Islam. Al Abbas hadir untuk meminta jaminan keselamatan bagi keponakannya dari penduduk Yastrib.

Isi Perjanjian Aqabah II

Perjanjian ini memuat empat poin utama yang disepakati penduduk Yastrib:

  1. Mereka siap melindungi Nabi Muhammad SAW.
  2. Mereka bersedia berjuang dengan harta dan jiwa.
  3. Mereka akan memajukan Islam dan menyebarkannya kepada sanak keluarga.
  4. Mereka siap menanggung segala risiko dan tantangan yang muncul.

Usai bai’at, Nabi kembali ke Mekkah untuk melanjutkan dakwah. Beliau tetap mempercayakan Mus’ab bin Umair sebagai mubaligh bagi umat Islam di Yastrib.

Gangguan dari kaum musyrik Mekkah terus meningkat. Nabi akhirnya memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Yastrib, baik secara sendiri maupun berkelompok, dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum musyrik.

Abu Salamah bin Abdil Asad menjadi orang pertama yang berhijrah, disusul Mush’ab bin Umair dan Amr bin Ummi Maktum. Bilal bin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ammar bin Yasir, dan Umar bin Khattab kemudian menyusul dalam rombongan berjumlah 20 orang.

Hikmah di Balik Perjanjian Aqabah II

Setelah bai’at berlangsung, sebagian kaum Anshar sempat khawatir. Mereka takut Nabi akan kembali ke kaumnya sendiri setelah meraih kemenangan, dan meninggalkan mereka begitu saja.

Untuk menjawab kekhawatiran itu, Nabi Muhammad SAW memilih dua belas orang dari kaum Anshar sebagai perwakilan sekaligus penanggung jawab urusan kaum mereka.

7 Dampak Perjanjian Aqabah 2 bagi Islam

1. Kesadaran Kaum Anshar untuk Melindungi Rasulullah

Kaum Anshar semakin memahami bahwa mereka harus siap melindungi Rasulullah SAW. Konsekuensinya, mereka pun bersiap menghadapi permusuhan dari kaum Yahudi dan kaum musyrikin. Meski tidak disebutkan secara eksplisit, perjanjian ini pada dasarnya sudah mengandung semangat jihad.

2. Ancaman dari Kaum Quraisy

Para pembesar Quraisy berusaha menangkap kaum muslimin begitu mereka mengetahui adanya upaya penjagaan terhadap Rasulullah. Peristiwa ini menegaskan bahwa iman akan selalu berhadapan dengan kekufuran dan syirik.

3. Pentingnya Kehati-hatian dalam Berdakwah

Bai’at yang dilakukan secara rahasia ini menunjukkan betapa pentingnya sikap hati-hati dalam menghadapi berbagai persoalan. Prinsip ini terutama berlaku ketika menyangkut kelangsungan dakwah Islam.

4. Landasan Hijrah ke Madinah

Bai’at Aqabah II menjadi dasar bagi kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah. Perjanjian ini membuka jalan bagi babak baru penyebaran Islam.

5. Islam Berkembang Bebas di Madinah

Islam tumbuh pesat dan berjaya di Madinah. Orang-orang yang sebelumnya menyembunyikan keislaman mereka di Mekkah kini bisa menampakkannya secara terbuka.

6. Penindasan terhadap Kaum Muslim di Mekkah

Kaum kafir Mekkah melakukan penindasan terhadap kaum muslimin setelah mengetahui hubungan Rasulullah dengan kaum muslimin di Madinah. Tekanan inilah yang mendorong Rasulullah dan para pengikutnya untuk hijrah ke Madinah.

7. Berdirinya Daulah Islamiyah di Madinah

Bai’at Aqabah II menjadi fondasi berdirinya Daulah Islamiyah di Madinah. Kota ini kemudian tumbuh menjadi pusat penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Memahami Makna Bai’at

Bai’at adalah ikrar atau perjanjian yang mengikat seseorang untuk menunaikan atau menanggung sesuatu yang telah disepakati. Istilah ini biasa dipakai ketika seorang Syekh menerima murid baru yang akan mengikuti petunjuk tertentu sebagai amanah dari sang guru.

Dalam ajaran Islam, makna bai’at meluas hingga mencakup penegakan syariat Islam secara menyeluruh. Hassan Al Banna, dalam karyanya Risalatul Ta’alim, menjabarkan beberapa makna bai’at terkait dakwah Islam sebagai berikut:

Alasan Yastrib Dipilih sebagai Tujuan Hijrah

Rasulullah SAW memiliki beberapa pertimbangan matang saat memilih Yastrib sebagai tujuan hijrah kaum muslimin:

Pemilihan Yastrib membuktikan bahwa Rasulullah telah merencanakan strategi dakwahnya dengan sangat matang. Proses hijrah pun dipersiapkan secara cermat, didukung penuh oleh penduduk Yastrib. Secara fisik maupun mental, Rasulullah SAW telah siap meninggalkan kota kelahirannya demi meneruskan perjuangan menegakkan ajaran tauhid.

Exit mobile version