Site icon Pahami

Review Film Deep Water (2026): Sensasi Thriller yang Klise

Review Film Deep Water (2026): Sensasi Thriller yang Klise

Kalau Anda cuma butuh tontonan thriller menegangkan yang tidak menuntut otak berpikir keras, film Deep Water (2026) ini mungkin bisa jadi pilihan sebelum telanjur ke bioskop. Digarap oleh sutradara Renny Harlin, film tentang kecelakaan pesawat di tengah lautan ini sayangnya berakhir mengecewakan meski naskahnya dikeroyok empat penulis sekaligus.

Plotnya terasa sangat mirip dengan No Way Up (2024) yang rilis baru-baru ini. Konflik antar-karakternya disajikan begitu klise dan gampang ditebak, jadi penonton tak perlu repot-repot menebak arah cerita. Pertanyaannya, apakah film ini masih layak ditonton di layar lebar?

Formula Klise yang Terasa Sangat Akrab

Naskah film ini digarap ramai-ramai oleh Pete Bridges, Shayne Armstrong, S.P. Krause, dan Damien Power—dengan cerita asli dari duo Armstrong dan Krause. Sayangnya, kolaborasi keroyokan ini gagal melahirkan sesuatu yang segar, alurnya malah terasa menjiplak mentah-mentah formula No Way Up (2024).

Bahkan sejak sepuluh menit awal, kejanggalan itu sudah tercium dari pengenalan karakter yang kelewat stereotipikal dan dialog yang terasa dangkal.

Kelihatannya, tim penulis ingin mengawinkan konsep Final Destination (2000) dengan ketegangan Deep Blue Sea (1999), lengkap dengan bumbu film hiu klasik ala Jaws (1975) atau Open Water (2003). Tapi sayang, racikan hibrida ini gagal menghasilkan sesuatu yang spesial.

Karakter Stereotipikal dan Akting Para Pemain Deep Water 2026

Kelemahan paling fatal dari film ini sebenarnya ada pada penokohan, terutama karakter Aaron Eckhart yang diplot jadi pahlawan utama.

Eckhart digambarkan terlalu sempurna hingga terasa tidak menapak bumi. Alhasil, ia pun kewalahan menyelamatkan film ini sendirian, malah terlihat seperti pria bingung yang mati-matian menjaga wibawanya di tengah puing-puing naskah yang berantakan.

Untung ada Angus Sampson yang tampil gemilang sebagai sosok antagonis super egois. Akting menyebalkannya sukses menguras emosi penonton. Penampilannya menjadi satu-satunya penyelamat di tengah jajaran karakter lain yang membosankan.

Sentuhan Khas Sutradara Renny Harlin

Dari kursi sutradara, Renny Harlin tampaknya malas melakukan improvisasi dan membiarkan ceritanya hancur berantakan bagai pesawat menghantam laut. Gaya penyutradaraannya yang terasa jadul ini bahkan sedikit mengingatkan penonton pada drama aksi khas Amerika macam Top Gun: Maverick (2022).

Meski begitu, Harlin setidaknya masih bisa memompa ketegangan di beberapa adegan yang lumayan seru ditonton di layar lebar. Nuansanya mirip-mirip dengan karyanya terdahulu, Deep Blue Sea (1999). Setidaknya, ada sedikit sensasi menegangkan yang bisa dibawa pulang penonton.

Pesan Penting Soal Aturan Penerbangan

Menariknya, Deep Water (2026) terselip pesan layanan masyarakat yang sangat relevan buat para pelancong: jangan pernah melanggar aturan penerbangan.

Kecelakaan dalam film ini dipicu oleh kecerobohan sepele penumpang terkait baterai portabel. Berikut beberapa poin penting yang digambarkan sebagai penyebab petaka:

Di luar urusan teknis tadi, naskah film ini juga terasa memaksakan bertemunya kepentingan Amerika Serikat dan China di babak akhir. Resolusinya terasa sangat dipaksakan, entah demi motif politik tim penulis atau sekadar tuntutan sponsor.

Jadi, apakah film ini layak ditonton? Kalau target Anda cuma hiburan kasual tanpa peduli logika plot yang bolong-bolong, silakan saja tonton akhir pekan ini. Tapi kalau mencari mahakarya yang membekas setelah keluar bioskop, lupakan saja.

Exit mobile version