Perdana Menteri Nepal Balendra Shah kembali menjadi sorotan publik internasional setelah menolak tawaran bantuan SAR dari negara-negara asing di tengah bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayahnya.
Penolakan Bantuan Asing saat Bencana Banjir Nepal
Selain itu, bencana banjir dan longsor tersebut telah merenggut nyawa hampir 400 orang serta menyebabkan 1.400 orang lainnya hilang, dengan korban mayoritas berasal dari kalangan turis mancanegara. Pejabat senior Kementerian Luar Negeri Nepal menyatakan bahwa pemerintah menerima banyak permintaan resmi maupun tidak resmi dari berbagai negara dan organisasi untuk mengerahkan tim penyelamatan.
Meskipun India menawarkan bantuan, pemerintah Nepal memutuskan untuk menolak tawaran tersebut. Selain India, pejabat Kementerian Luar Negeri juga menyebutkan bahwa China serta negara-negara lain turut mengajukan permintaan serupa, namun mereka tetap menolaknya.
Negara lain yang turut menawarkan bantuan meliputi Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, dan Bangladesh.
Profil dan Perjalanan Karier Balendra Shah
Balendra Shah merupakan mantan seorang rapper yang beralih menjadi politikus dan resmi memenangkan pemilihan umum dengan suara telak pada Maret lalu. Berusia 36 tahun, ia mencatatkan diri sebagai pemimpin negara termuda di dunia yang membawa janji perubahan di tengah kekecewaan masyarakat terhadap korupsi, nepotisme, serta dominasi elite politik yang melanda Nepal.
Sebelum terjun ke dunia politik, ia lahir pada 1990 di Naradevi, Kathmandu, sebagai anak bungsu dari seorang praktisi Ayurveda dan ibu rumah tangga. Ia menempuh pendidikan teknik di Kathmandu dan Karnataka, India, sebelum meraih popularitas sebagai rapper pada 2013 melalui kemenangan dalam sebuah kontes rap populer di Nepal.
Karier Musik dan Lagu Protes Sosial
Tidak hanya aktif di dunia akademis, ia merilis beberapa lagu populer yang secara tajam mengkritik korupsi serta ketidaksetaraan sosial di negaranya dengan tampil khas mengenakan kacamata hitam persegi, blazer hitam, dan celana panjang hitam. Salah satu lagu terkenalnya berjudul ‘Balidan’, yang berarti pengorbanan, telah ditonton sekitar 14 juta kali di YouTube untuk menyoroti kesenjangan ekonomi serta kondisi warga Nepal yang bekerja di luar negeri.
Selain itu, ia pernah merilis sebuah lagu penuh optimisme tentang masa depan Nepal yang mendulang lebih dari dua juta penonton hanya dalam beberapa jam setelah dirilis. Melalui lirik ‘Nepal yang tak terpecah, kali ini sejarah sedang dibuat’, ia memanfaatkan musik sebagai sarana untuk mengecam korupsi dan berbagai masalah sosial lainnya.
Langkah Menuju Kursi Perdana Menteri Nepal
Setelah tiga tahun menjabat sebagai wali kota ibu kota Kathmandu, ia bergabung dengan Partai Rastriya Swatantra (RSP) sebagai kandidat perdana menteri. Para pendukungnya menilai pria yang kerap disapa Balen itu sebagai simbol perubahan nyata dari kegagalan rezim lama Nepal.
Popularitasnya semakin menguat ketika gelombang protes melanda Nepal pada September tahun lalu akibat larangan media sosial yang berujung pada kemarahan terhadap korupsi, pengangguran, dan stagnasi ekonomi. Selama aksi demonstrasi berlangsung, para pengunjuk rasa bahkan menggunakan lagu miliknya yang berjudul ‘Nepal Haseko’, yang berarti ‘Nepal yang Tersenyum’.
Strategi Kampanye dan Kemenangan Pemilu
Dalam menjalankan kampanye, ia memilih strategi yang berbeda dari politikus konvensional dengan lebih banyak berkomunikasi langsung melalui media sosial. Melalui platform tersebut, ia menyampaikan berbagai janji penting termasuk pemberantasan korupsi, reformasi peradilan, dan penciptaan 1,2 juta lapangan kerja baru.
Strategi ini terbukti sukses mengantarkan Partai RSP meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum pada 5 Maret. Ia bahkan berhasil menggulingkan mantan perdana menteri KP Sharma Oli di daerah pemilihan Jhapa 5 yang selama ini dikenal sebagai benteng kekuasaan Oli.
Kontroversi dan Tantangan Pemerintahan Baru
Kendati demikian, kepemimpinannya tidak luput dari kritik, terutama saat menjabat sebagai wali kota ketika kelompok hak asasi manusia menyoroti penggunaan kepolisian secara berlebihan terhadap pedagang kaki lima. Di sisi lain, tim kampanyenya tidak menanggapi permintaan komentar dari BBC terkait berbagai isu tersebut.
Wakil direktur Asia dari Human Rights Watch, Meenakshi Ganguly, menyatakan, ‘Kami berharap sebagai perdana menteri, akan ada fokus pada tatanan yang lebih berbasis aturan’. Tantangan besar kini menanti Shah dan partainya, mulai dari perang di Timur Tengah tempat jutaan warga Nepal bekerja, pengangguran kronis, hingga kurangnya pengalaman Partai RSP dalam menjalankan pemerintahan.

