Menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, menekan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait implementasi perdamaian di Jalur Gaza, Palestina.
Pernyataan Jared Kushner Soal Kesepakatan Gaza
Kushner menjabat sebagai utusan khusus untuk Timur Tengah dan Gaza di Dewan Perdamaian. Ia mengatakan kesepakatan Gaza sebenarnya menguntungkan pihak Israel.
Bagi Israel, hal ini merupakan situasi yang menguntungkan semua pihak. Jika Hamas menyerahkan senjata dan terowongan secara sukarela dalam 60 hingga 90 hari ke depan, ancaman keamanan yang besar bagi Israel akan hilang.
Hal tersebut disampaikan Kushner saat wawancara dengan Fox News, dikutip Al Jazeera.
Pertemuan dengan Benjamin Netanyahu
Kushner sempat bertemu dengan Netanyahu pada Senin. Namun, pertemuan itu tidak menghasilkan terobosan signifikan.
PM Israel tetap menolak kesepakatan Gaza. Menurut Kushner, jika mereka tidak menindaklanjuti komitmen sekarang, semua orang akan melihat bahwa mereka tidak tulus dalam hal perdamaian.
Jika Israel menunjukkan komitmen dalam perdamaian dan tulus, AS serta negara lain bisa menyelesaikan pekerjaan lain terkait Gaza.
Syarat Rekonstruksi dan Sikap Hamas
Pemerintahan Donald Trump menegaskan tidak akan mengizinkan rekonstruksi di Gaza sampai Hamas melucuti senjata sepenuhnya.
AS mempunyai rencana membangun kembali Gaza. Namun, mereka tidak akan mengizinkan hal tersebut sampai demiliterisasi terjadi.
Hamas sepakat untuk melucuti senjata sebagai bagian implementasi perdamaian Gaza. Kendati demikian, mereka menegaskan tidak akan mematuhi perjanjian selama Israel belum menarik pasukan dan masih menggempur wilayah itu.
Posisi Amerika Serikat dan Situasi di Lapangan
Sejak pertama kesepakatan dirilis, Israel menolak mentah-mentah poin-poin tersebut. AS berulang kali menekan Tel Aviv, tetapi tidak ada perubahan.
AS mewadahi keinginan Israel dengan menyatakan tidak akan menarik pasukan Zionis sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya.
AS juga tidak akan membatasi hak Israel untuk membela diri jika ada ancaman yang akan segera terjadi.
Israel melancarkan serangan hampir setiap hari ke Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada November tahun lalu. Imbas operasi itu, 1.265 orang tewas.
Pasukan Zionis menggempur habis-habisan Gaza bahkan setelah Dewan Perdamaian merilis kesepakatan pelucutan senjata Hamas.
Selama agresi brutal Israel di Palestina, lebih dari 73.000 warga tewas. Ratusan ribu rumah dan fasilitas hancur, serta jutaan orang terpaksa menjadi pengungsi.

