Jakarta, Pahami.id —
Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno buka suara Anda atas keterlibatan Palestina di Dewan Keamanan Gaza atau Board of Peace (BoP).
Havas, sapaan akrabnya, memberikan komentar tersebut usai rapat tertutup dengan Komisi I DPR RI hari ini, Selasa (27/1).
“Ada satu salah paham Tampaknya bagi orang-orang bahwa tidak ada Palestina. “Ada Palestina di sana,” ujarnya di sekitar Kompleks Parlemen DPR-MPR, Jakarta.
Havas kemudian berkata, “Telah disepakati bahwa beberapa perwakilan teknokrat Palestina akan menjadi bagian dari program ini.”
Dari 26 negara anggota BoP, negara Palestina tidak terdaftar sebagai anggota. Puluhan negara termasuk Amerika, Arab Saudi, Indonesia, dan Israel.
Namun, ada sejumlah teknokrat Palestina yang tergabung dalam Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG).
Badan ini beroperasi di bagian bawah struktur kepemimpinan Amerika Serikat. Tingkat tertinggi adalah BoP yang dipimpin langsung oleh Presiden Donald Trump, kemudian ada Dewan Eksekutif Gaza yang mengawasi pekerjaan di lapangan, dan terakhir NCAG.
Badan tersebut beranggotakan 15 teknokrat Palestina dan diketuai oleh mantan pejabat Otoritas Palestina (PA) dan teknokrat Ali Shaath.
NCAG bertanggung jawab untuk memulihkan layanan penting seperti listrik, air, layanan kesehatan, pendidikan; mengatur kehidupan sehari-hari, dan mengawasi keselamatan publik di Gaza.
Pembentukan NCAG juga disebut-sebut bertujuan untuk menggantikan pemerintahan Hamas dengan pemerintahan teknokratis. Kemudian, ketika keadaan membaik, mereka akan mengalihkan pemerintahan ke Otoritas Palestina.
NCAG akan mengawasi proses perlucutan senjata, mempertahankan satu undang-undang dan satu rantai komando, dan mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata setelah melalui proses verifikasi yang ketat, katanya. Pos Yerusalem.
Dewan Perdamaian merupakan inisiatif Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump.
Dalam kesempatan tersebut, Havas menegaskan bahwa setiap anggota memiliki suara yang setara dan setara.
“Di sana anggotanya mempunyai hak yang sama. Jadi bukan hanya Indonesia, tapi negara-negara Timur Tengah lainnya punya posisi yang disebut equal voice,” ujarnya.
Keikutsertaan Indonesia dalam organisasi ini mendapat kritik tajam dari para pengamat. RI selalu vokal menyuarakan kemerdekaan Palestina, bahkan menyerukan penghapusan kolonialisme dalam konstitusi.
BoP juga mendapat kritik karena dianggap meremehkan peran PBB dalam menjaga perdamaian.
(isa/rds)

