Site icon Pahami

Berita Wamendagri Respons Ketua Apkasi Bursah Soal Tak Ada Bupati Tak Korupsi

Berita Wamendagri Respons Ketua Apkasi Bursah Soal Tak Ada Bupati Tak Korupsi


Jakarta, Pahami.id

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto tidak setuju dengan pernyataan Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia, Bursah Zanubi yang menyatakan tidak ada bupati siapa yang tidak korupsi.

Pernyataan itu menurut saya tidak tepat. Memang benar banyak bupati yang terlibat korupsi, kata Bima melalui pesan singkat, Jumat (23/1).

Berdasarkan catatan KDN, memang ada 500 kepala daerah yang terlibat kasus korupsi. Meski demikian, ia menyatakan angka tersebut bukan berarti bisa menggeneralisasi seluruh kepala daerah di Indonesia adalah koruptor.


“Saya kenal pemimpin daerah yang bersih dan berintegritas, hidup sederhana dan bekerja keras,” ujarnya.

Bima sendiri mengaku sudah melakukan kontak dengan Bursah yang juga menjabat Bupati Lahat dan menanyakan maksud pernyataannya.

Dan menurutnya konteksnya tidak seperti itu. Beliau hanya menggambarkan semua pemimpin daerah menghadapi situasi dan tantangan yang sama, ujarnya.

Pernyataan Bursa sebelumnya menarik perhatian setelah ia menyebut tidak ada pemimpin daerah yang tidak korup.

Menurut Bursah, gaji bupati sangat kecil yakni hanya Rp 5,7 juta per bulan. Bahkan, ia mengaku sempat meminta tambahan anggaran sebesar Rp. 400 juta untuk setiap kabupaten se-Indonesia dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Menurut dia, penambahan anggaran itu agar bupati tidak melakukan korupsi. Bursah mengaku pernah mengeluh kepada Tito karena gaji bupati kecil, yakni hanya Rp. 5,7 juta per bulan. Oleh karena itu, kata Bursah, tidak ada bupati yang tidak koruptor.

Jadi, tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak korupsi. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang sial, dan ada pula yang sial, ”ujarnya.

KPK pun menanggapi pernyataan Bursah. Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi Budi Prasetyo mengatakan kepala daerah sedang mengalami krisis kepemimpinan sehingga masih melakukan tindak pidana korupsi.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengingatkan bahwa praktik korupsi yang melibatkan bupati masih menjadi permasalahan serius di pemerintahan daerah di Indonesia, kata Budi saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis, Rabu (21/1) sore.

Terpisah, Indonesia Corruption Watch mengecam keras pernyataan Bursah karena terkesan menormalisasi korupsi yang dilakukan pemimpin daerah.

Yassar mengatakan, seharusnya Bursah memberikan informasi tersebut kepada aparat penegak hukum, bukan menormalisasinya. Sebab, hal itu bisa kembali menurunkan semangat pemberantasan korupsi.

“Kami di ICW mengecam keras pernyataan Bursah Zarnubi yang terkesan menormalisasi atau memfasilitasi maraknya praktik korupsi di tingkat pemerintah daerah atau khususnya para pemimpin daerah,” kata Peneliti ICW Yassar Aulia kepada CNNIndonesia.comRabu (21/9).

(mnf/dal)



Exit mobile version