Jakarta, Pahami.id —
Penasihat Diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash menilai peluang Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz saat ini hanya ’50:50′.
Gargash memperingatkan konflik baru antara Washington dan Teheran hanya akan memperburuk situasi di kawasan Timur Tengah yang memanas dalam beberapa bulan terakhir.
“Perundingan yang hanya bertujuan untuk mencapai gencatan senjata tetapi menanam benih konflik baru bukanlah hal yang kami inginkan,” kata Gargash, seperti dikutip Gulf News, Sabtu (23/5).
Ia juga menegaskan Selat Hormuz harus kembali menjadi jalur pelayaran internasional terbuka.
Menurut Gargash, Iran kerap kehilangan peluang diplomasi karena terlalu percaya diri dengan posisi tawarnya dalam perundingan internasional.
“Para pejabat Iran telah kehilangan banyak peluang selama bertahun-tahun karena kecenderungan mereka untuk memainkan peran yang berlebihan. Saya harap mereka tidak melakukannya kali ini,” katanya.
Gargash mengatakan program nuklir Iran kini menjadi perhatian utama UEA. Diakuinya, Abu Dhabi semakin khawatir dengan kemampuan militer Teheran pasca konflik yang terjadi sejak akhir Februari lalu.
“Program nuklir Iran dulunya menjadi perhatian kedua atau ketiga kami. Saat ini, hal tersebut menjadi perhatian utama kami,” kata Gargash.
Ia juga menuduh Iran bersedia menggunakan semua senjata yang dimilikinya.
“Kami melihat Iran mampu menggunakan senjata apa pun yang mereka miliki, dan ini adalah sesuatu yang kami alami,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Gargash juga mengungkapkan bahwa UEA telah menjadi sasaran sekitar 3.300 drone dan rudal selama 40 hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari tersebut. Menurutnya, hanya sekitar empat persen serangan yang berhasil menembus sistem pertahanan udara UEA.
Ia juga mengatakan Iran efektif menutup Selat Hormuz sejak konflik dimulai, terutama setelah Teheran mengumumkan pembentukan badan khusus untuk mengelola jalur laut tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Rute ini merupakan titik transit utama ekspor minyak dari kawasan Teluk ke pasar global. Ketegangan di kawasan sering kali memicu kekhawatiran mengenai pasokan energi dan stabilitas ekonomi dunia.
(anm/dna)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

