Site icon Pahami

Berita Turis AS Nekat ‘Ditunggangi’ Harimau Demi Foto Bagus

Berita Turis AS Nekat ‘Ditunggangi’ Harimau Demi Foto Bagus


Jakarta, Pahami.id

Wisatawan pribumi Amerika Serikat menjadi sorotan publik usai membagikan momen dirinya berani ditunggangi harimau.

media Perancis Le Tribunal du Net (TDN) melaporkan bahwa kejadian itu terjadi di Thailand, di kawasan wisata.


Dalam video yang dibagikan, pria berkulit hitam Amerika itu terlihat ingin berfoto bersama seekor harimau.

Harimau tersebut terlihat memanjat di bahunya sambil duduk bersila. Sang pelatih tampak berada di dekatnya, sibuk memegang botol untuk memberi makan harimau seperti susu ketika hewan itu mulai menggerakkan kepalanya ke arah turis tersebut.

Video tersebut dengan cepat memicu kemarahan publik dan membuka mata dunia terhadap praktik taman satwa liar di Thailand.

Di Thailand, realitas tempat wisata jauh dari gambaran yang dijual kepada pengunjung. Pendiri Thailand Wildlife Friends Foundation, Edwin Wiek, mengatakan hewan-hewan tersebut dieksploitasi untuk mendapatkan uang dari wisatawan.

Menurut catatan, hanya sekitar 200 ekor harimau yang hidup di alam liar. Lebih dari 2.000 harimau lainnya hidup di penangkaran.

Laporan Perlindungan Hewan Dunia mengatakan harimau-harimau ini dilatih dan dihukum untuk melakukan tindakan yang sangat menimbulkan stres. Mereka dikurung di kandang kecil atau dirantai, sehingga beberapa harimau mengalami masalah perilaku.

Pemerintah Thailand tidak bisa mengambil tindakan tegas terhadap eksploitasi hewan karena sektor pariwisata menyumbang hampir 20 persen terhadap produk domestik bruto Negeri Gajah Putih.

Pada tahun 2016, pihak berwenang Thailand menutup Wat Pha Luang Ta Bua atau Kuil Harimau karena dicurigai membius hewan tersebut agar wisatawan dapat mengambil foto selfie dengan aman.

Dalam penggerebekan tersebut, petugas menemukan bangkai 40 ekor anak harimau dan beberapa hewan lainnya di dalam lemari es. Sebanyak 147 harimau telah dipindahkan dari sana.

Meskipun Wat Pha Luang Ta Bua telah ditutup, banyak institusi serupa yang masih beroperasi.

Masyarakat Dunia untuk Perlindungan Hewan menegaskan bahwa ini bukanlah upaya konservasi, melainkan aktivitas komersial yang melecehkan hewan.

(blq/baca)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google





Exit mobile version