Site icon Pahami

Berita Trump Sebut Perusahaan AS Mulai Bor Minyak Venezuela Dalam Waktu Dekat

Berita Trump Sebut Perusahaan AS Mulai Bor Minyak Venezuela Dalam Waktu Dekat


Jakarta, Pahami.id

Presiden Donald Trump mengklaim bahwa beberapa perusahaan AS akan mulai melakukan pengeboran untuk mendapatkan minyak Venezuela dalam waktu dekat, pada Kamis (22/1).

Pernyataan ini disampaikan Trump kepada wartawan dalam perjalanan kembali ke Washington, DC dari Davos, Swiss.

“Kami akan segera memulai pengeboran,” kata Trump seperti dikutip Agensi Anadolu.


Ia juga menambahkan bahwa AS memiliki perusahaan-perusahaan “terbesar” di dunia.

“Kami memiliki mereka, dan mereka datang. Mereka semua sedang bernegosiasi sekarang,” katanya

Pada hari yang sama, anggota parlemen Venezuela menyetujui rencana untuk mempermudah perusahaan asing terlibat di sektor minyak, sebagai tanggapan atas tuntutan Trump.

Anggota parlemen Venezuela Orlando Camacho menyebut reformasi hidrokarbon yang diumumkan oleh Presiden sementara Delcy Rodríguez memberikan hak kepada perusahaan asing untuk mengelola ladang minyak dengan “risiko dan biaya mereka sendiri.” Rencana tersebut diumumkan pekan lalu dan saat ini sedang dibahas di parlemen Venezuela.

Majelis Nasional Venezuela juga memberikan dukungan awal terhadap rancangan undang-undang reformasi tersebut, yang kini akan menghadapi perdebatan putaran kedua sebelum dapat diadopsi.

“Minyak bawah tanah tidak ada gunanya,” kata Presiden Majelis Nasional, Jorge Rodríguez, yang juga saudara presiden sementara, seperti dikutip CNN.

“Apa gunanya mengatakan bahwa kita memiliki cadangan minyak terbesar di planet ini jika kondisinya… menghambat proses percepatan produksi, yang mengarah pada peningkatan produksi minyak? Dan kita perlu melakukannya, dan melakukannya sekarang,” tambahnya.

Selain itu, anggota parlemen juga mengesahkan undang-undang tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan perlindungan hukum bagi dunia usaha. Perlindungan ini menjadi salah satu hal yang menjadi syarat bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk berinvestasi di negara tersebut.

Sumber mengatakan bahwa para eksekutif perminyakan AS mungkin enggan memasuki Venezuela karena masalah keamanan dan ketidakpastian politik dan ekonomi di negara tersebut.

“Minat untuk pergi ke Venezuela cukup rendah saat ini. Kami tidak tahu seperti apa pemerintahan di sana,” kata seorang sumber industri kepada CNN awal bulan ini.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti lebih banyak dibandingkan negara lain di dunia. Namun, perusahaan minyak mengatakan mereka memerlukan kepastian operasional jangka panjang sebelum berinvestasi pada proyek pengeboran jarak jauh.

Selama hampir 20 tahun, mayoritas sektor minyak Venezuela dikuasai oleh perusahaan negara PDVSA, sementara keterlibatan perusahaan asing hanya terbatas pada usaha patungan dengan perusahaan publik.

Dengan dibukanya akses terhadap perusahaan minyak AS, langkah ini memenuhi salah satu tuntutan utama pemerintahan Trump terhadap Venezuela terkait keterlibatan perusahaan AS di sektor perminyakan.

Sebelumnya, Gedung Putih mengumumkan kesepakatan penjualan minyak mentah Venezuela senilai US$500 juta (sekitar Rp 8 triliun) antara Caracas dan Washington.

Pada hari Selasa, Presiden sementara Delcy Rodríguez mengatakan Venezuela telah menerima US$300 juta (sekitar Rp 4,8 triliun) dari jumlah tersebut.

(rnp/dna)


Exit mobile version