Jakarta, Pahami.id —
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi membentuk Dewan Perdamaian (Peace Council) Gaza.
Pengumuman itu disampaikannya dalam keterangan di Truth Social pada Kamis (15/1).
“Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk mengumumkan bahwa DEWAN PERDAMAIAN telah dibentuk,” tulis Trump di media sosialnya.
Trump mengatakan anggota Dewan Perdamaian akan diumumkan sesegera mungkin. Dia bersikeras bahwa badan ini akan menjadi ‘dewan terbesar dan paling bergengsi’ di dunia.
“Saya dapat mengatakan dengan pasti bahwa ini adalah Majlis terbesar dan paling bergengsi yang pernah berkumpul kapan pun dan di mana pun,” tulisnya.
Pembentukan dewan ini terjadi tak lama setelah pembentukan komite teknokrat Palestina diumumkan. Ada 15 anggota komite yang akan bertugas mengelola pemerintahan di Gaza pasca perang.
Komite ini akan bekerja di bawah pengawasan Dewan Perdamaian, yang mana Trump adalah ketuanya.
Pembentukan Dewan Perdamaian disepakati oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada 17 November.
Melalui resolusi Dewan Keamanan PBB, Dewan Perdamaian diberi wewenang untuk membentuk Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) untuk membantu mengamankan Gaza dan melatih unit polisi Palestina.
Gencatan senjata di Gaza pada Rabu (14/1) akhirnya resmi memasuki tahap kedua. Utusan Khusus Trump, Steve Witkoff, mengatakan gencatan senjata di Gaza kini beralih ke fase demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi.
“Hari ini, atas nama Presiden Trump, kami mengumumkan peluncuran Fase Kedua dari 20 Poin Rencana Presiden untuk Mengakhiri Konflik Gaza,” kata Witkoff dalam postingan di X, Rabu (14/1).
Dalam pernyataan terpisah, Trump mengatakan bahwa bantuan kemanusiaan telah menjangkau masyarakat Gaza, meski dalam jumlah besar, pada tahap pertama. Oleh karena itu, gencatan senjata dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.
“Sebagai Ketua Dewan Perdamaian, saya mendukung Pemerintahan Teknokratis Palestina yang baru diangkat, Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG) yang didukung oleh Perwakilan Tinggi Dewan, untuk memerintah Gaza selama masa transisi. Para pemimpin Palestina ini berkomitmen kuat untuk masa depan yang damai,” tulis Trump di postingan lainnya.
Gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 berkat rencana perdamaian Trump yang disampaikan pada 29 September.
Tahap pertama gencatan senjata mencakup kembalinya sandera Hamas dan Israel, baik hidup maupun mati, serta pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan kepada rakyat Palestina.
Meskipun demikian, banyak laporan menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan di Gaza masih kurang dari yang dibutuhkan. Kekerasan yang dilakukan tentara Israel juga terus berlanjut.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, 451 orang telah tewas sejak gencatan senjata resmi berlaku.
Palestina telah lama menekankan bahwa perdamaian hanya bisa terjadi jika Israel menarik seluruh pasukannya dari Gaza. Israel sangat menentang tindakan ini.
Sedangkan bagi Hamas, rencana perdamaian yang menuntut perlucutan senjata tidak bisa dilaksanakan. Tuntutan perlucutan senjata sendiri datang dari Israel.
(blq/asr)

