Site icon Pahami

Berita Trump Cap Gencatan Senjata AS-Iran Kritis: Seperti Di Ambang Kematian

Berita Trump Cap Gencatan Senjata AS-Iran Kritis: Seperti Di Ambang Kematian


Jakarta, Pahami.id

Presiden Donald Trump mendeklarasikan gencatan senjata Amerika Serikat dengan Iran dalam situasi kritis di tengah upaya perundingan yang tidak pernah mencapai penyelesaian.

“Saya katakan saat ini situasinya sangat lemah, seperti di ambang kematian,” kata Trump kepada awak media di Gedung Putih, Senin (11/5), dikutip. AFP.


Dia kemudian berkata, “Menurut saya gencatan senjata berada dalam kondisi kritis.”

Pada kesempatan lain, Trump mengatakan AS sedang mempertimbangkan untuk menerapkan kembali Project Freedom, sebuah operasi untuk mengawal kapal melintasi Selat Hormuz sekaligus menghilangkan kendali Iran atas perairan tersebut.

Trump kemudian mengatakan kebuntuan yang terjadi saat ini tidak berarti AS akan mundur.

“Kita akan meraih kemenangan total. Saya akan lelah dengan ini. Saya akan bosan, atau saya akan merasakan tekanan. Tapi, tidak ada tekanan,” ujarnya saat diwawancarai Berita Rubah.

Trump kemudian ditanya apakah AS masih bersedia bernegosiasi dengan Iran. Ia tidak menjawab secara gamblang namun justru mengkritik kepemimpinan negara tersebut.

“[Kepemimpinan Iran] terbagi menjadi moderator dan orang gila,” kata presiden AS.

Sebelumnya, AS mengajukan usulan untuk mengakhiri perang termasuk mengakhiri program nuklir Iran dan akses ke Selat Hormuz.

Sejumlah sumber menyebut Iran telah merespons usulan tersebut. Salah satu sumber juga mengatakan Teheran siap mentransfer uranium yang diperkaya ke negara ketiga jika perundingan berhasil.

Namun, jika negosiasi gagal, Iran ingin uraniumnya dikembalikan. Pemerintah yang berbasis di Teheran juga menolak diakhirinya program nuklir.

AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu yang dimulai pada 8 April. Perjanjian ini kemudian diperpanjang tanpa batasan waktu yang rinci.

Baik negara maupun mediator Pakistan terus mengupayakan negosiasi agar gencatan senjata permanen dapat tercapai. Namun negosiasi disebut akan sulit karena AS dan Iran berbeda pandangan mengenai sejumlah isu, terutama terkait nuklir.

(isa/rds)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google




Exit mobile version