Jakarta, Pahami.id —
Sedikitnya 200 orang tewas seketika di darat tanah longsor yang melanda beberapa area penambangan di lokasi penambangan coltan di Kongo.
Bencana tanah longsor terjadi pada Rabu (28/1) di tambang Rubaya, Provinsi Kivu Utara.
Juru Bicara Gubernur Provinsi Kivu Utara Lumumba Kambere Muyisa mengatakan, tanah longsor disebabkan oleh hujan lebat.
Saat ini sudah lebih dari 200 orang meninggal dunia. Beberapa di antaranya masih terkubur lumpur dan belum ditemukan, kata Muyisa, Sabtu (31/1), seperti dilansir Independen.
Korban lainnya juga banyak yang mengalami luka-luka dan dibawa ke tiga fasilitas kesehatan di Rubaya.
Pemerintah setempat menghentikan sementara aktivitas penambangan di lokasi tersebut. Pemerintah juga memerintahkan relokasi warga yang tinggal di sekitar lokasi pertambangan.
Mantan penambang di lokasi yang sama, Clovis Mafare, menyoroti bahaya di sana. Menurut dia, longsor sering terjadi karena terowongan digali secara manual dengan tangan. Hal ini mengakibatkan konstruksi yang buruk, ditambah dengan kurangnya pemeliharaan.
“Orang-orang menggali di mana-mana, tanpa pengawasan atau tindakan pengamanan. Dalam satu lubang galian, mungkin terdapat 500 penambang. Karena terowongannya paralel, satu kali keruntuhan dapat berdampak pada banyak lubang galian,” kata Mafare.
Rubaya terletak di bagian timur Kongo. Wilayah ini dikenal kaya akan mineral.
Kongo sendiri merupakan pemasok coltan global yang penting. Yang terakhir adalah bijih logam hitam yang mengandung tantalum, komponen penting dalam pembuatan ponsel pintar, komputer, dan mesin pesawat.
Pada tahun 2023, Kongo akan memproduksi sekitar 40 persen coltan dunia. Tambang Rubaya menyumbang lebih dari 15 persen pasokan tantalum global.
(pantat)

