Site icon Pahami

Berita Status Darurat Mpox Dicabut, Afrika Masuki Fase Eliminasi

Berita Status Darurat Mpox Dicabut, Afrika Masuki Fase Eliminasi


Jakarta, Pahami.id

Afrika sebagai hasilnya, mereka tidak lagi berada dalam situasi darurat kesehatan masyarakat mpox. Namun, penyakit virus yang sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet masih mewabah di beberapa daerah.

Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika), Jean Kaseya, mengatakan pencabutan status darurat regional terjadi setelah adanya perbaikan signifikan dalam deteksi kasus, terapi, dan vaksinasi secara luas.

“Mpox tidak lagi menjadi darurat kesehatan masyarakat di Afrika, namun penyakit ini masih menjadi endemik di beberapa tempat,” kata Kaseya, Sabtu, mengutip waktu setempat. AFP.


Keputusan ini diambil setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September lalu menyatakan mpox tidak lagi berstatus darurat kesehatan global. WHO sebelumnya mengumumkan keadaan darurat global pada Agustus 2024 menyusul penyebaran epidemi dua arah yang sebagian besar terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC).

Kaseya menjelaskan, sejak tahun 2024 lebih dari lima juta dosis vaksin mpox telah didistribusikan di 16 negara Afrika. Langkah-langkah ini, bersama dengan penguatan sistem kesehatan, berkontribusi pada penurunan jumlah kasus terkonfirmasi sebesar 60 persen antara awal tahun 2025 dan akhir tahun 2025.

Selain itu, angka kematian akibat mpox juga menurun signifikan dari 2,6 persen menjadi 0,6 persen.

Meski status darurat telah dicabut, Kaseya menegaskan hal tersebut tidak berarti penyakit campak di Afrika telah teratasi sepenuhnya.

“Ini bukanlah akhir dari mpox di Afrika. Ini menandai transisi dari tanggap darurat ke upaya berkelanjutan yang dipimpin oleh negara menuju pemberantasan penyakit ini,” katanya.

Dia menekankan pentingnya kewaspadaan yang berkelanjutan, investasi yang ditargetkan dan inovasi untuk mempertahankan profitabilitas dan mencegah kebangkitan epidemi.

Data WHO menunjukkan bahwa sekitar 78 persen kasus campak global terdeteksi di Afrika, dengan Republik Demokratik Kongo, Guinea, dan Madagaskar menjadi negara yang paling terkena dampaknya.

(sels/sel)


Exit mobile version