Jakarta, Pahami.id —
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) angkat bicara usai pernyataan resmi pemerintah Indonesia terkait hal tersebut Venezuela mendapat kritik dari beberapa pihak karena dianggap normatif dan tidak menyebut nama. Amerika Serikat dalam pembebasan mereka.
Pekan lalu, Amerika Serikat menyerbu ibu kota Venezuela, Caracas, dan menculik Presiden Nicolas Maduro dan ibu negara Cilia Flores.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang mengatakan posisi Indonesia jelas dan berdasarkan prinsip.
“Indonesia memilih untuk menyampaikan sikap berdasarkan penghormatan terhadap hukum internasional, prinsip universal Piagam PBB dan Hukum Humaniter Internasional, bukan retorika yang dapat memperburuk keadaan sambil terus mendorong upaya kemudahan dialog dan perlindungan warga sipil,” kata Yvonne dalam konferensi pers di Kementerian Luar Negeri, Kamis (8/1).
Yvonne juga menjelaskan, Indonesia meminta semua pihak untuk memprioritaskan upaya pengurangan dialog dan perlindungan masyarakat.
Lebih lanjut, ia menekankan fokus Indonesia saat ini pada norma dan stabilitas internasional.
Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri mengeluarkan pernyataan mengenai situasi di Venezuela setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Caracas pada 3 Januari.
Isi rilis tersebut memantau perkembangan di Venezuela dan masyarakat Indonesia di sana. Mereka juga meminta semua pihak menahan diri, tidak terkecuali Amerika Serikat.
“Indonesia juga menyerukan kepada seluruh pihak terkait untuk mengedepankan solusi damai melalui langkah deeskalasi dan dialog, serta terus mengedepankan perlindungan warga sipil,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri.
Keesokan harinya, Kementerian Luar Negeri kembali mengeluarkan pernyataan resmi. Indonesia, lanjut mereka, terus memantau perkembangan di Venezuela.
“Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas tindakan apa pun yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekerasan,” lanjut Kementerian Luar Negeri. Pernyataan ini juga tidak menyebut Amerika Serikat.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia sekaligus Ketua Eksekutif Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengaku kaget membaca pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri yang dinilai sangat standar dan tidak menyebut Amerika Serikat sama sekali.
“Sejak kapan kita enggan/takut mengkritik teman yang melanggar hukum internasional?” kata Dino dalam postingan di X pada Minggu.
Menurutnya, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia untuk menunjukkan sikapnya sebagai pemain di Global South.
“Inilah saatnya, Indonesia harus percaya diri untuk menunjukkan sikapnya, seperti saat kita menentang invasi AS ke Irak. Kebebasan untuk aktif berarti KEBERANIAN untuk mengambil sikap,” ujarnya.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Rofii Sya’roni punya penilaian berbeda. Pernyataan tersebut dinilainya sebagai upaya Indonesia menjaga hubungan dengan Amerika Serikat di tengah situasi perekonomian dunia saat ini.
“Tentu saja menyinggung perasaan suatu negara besar tidak mudah dilakukan, apalagi jika ada kerja sama ekonomi,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Sya’roni, yang bisa dilakukan Indonesia adalah memanfaatkan forum PBB dengan melibatkan sebanyak-banyaknya negara untuk menyuarakan keprihatinan yang sama.
“Indonesia secara khusus perlu menggunakan pendekatan Global South untuk menyuarakan aspirasi tersebut. Wahana yang dapat digunakan adalah Organisasi Kerjasama Islam atau Kelompok Non-Blok,” imbuhnya.
(isa/bac)

