Jakarta, Pahami.id —
Banjir merendam sejumlah ruas jalan di Jakarta usai diguyur hujan semalaman sejak Sabtu (17/1) sore.
Berdasarkan laporan TMC Polda Metro Jaya, Minggu (18/1), banjir terjadi di Jalan Letjen Suprapto, Jakarta Pusat pada pukul 07.08 WIB.
“Saat ini yang bisa digunakan hanya jalur bus saja, sehingga pengendara selalu berhati-hati saat menyeberang,” demikian informasi dari TMC Polda Metro di X.
Banjir setinggi sekitar 5 cm juga terjadi di Tol Sedyatmo Rawabokor menuju Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 06.23 WIB, namun masih bisa dilewati pengemudi.
Banjir dengan kedalaman sekitar 30 – 40 cm juga terjadi di Jalan Ahmad Yani, Jakarta Pusat, tepatnya di depan RS Pertamina. Akibatnya, sepeda motor tidak bisa melintas.
Belakangan, genangan air sekitar 20-30 cm juga terjadi pada pukul 05.30 WIB pagi tadi di jalur arteri menjelang GT. Sunter dan sebelum masuk GT. Sunter. TMC Polda Metro Jaya mengimbau pengendara berhati-hati.
“05.29 genangan air dilaporkan terjadi pada pukul 05.25 WIB di jalur paling kiri depan Menara Wika Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur mengarah ke Kebon Nanas, kini sudah surut,” kata TMC Polda Metro Jaya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan sedang hingga sangat lebat masih berpotensi turun di beberapa wilayah di Indonesia sepanjang pekan depan.
Menurut BMKG, El Nino-Southern Oscillation (ENSO) secara global terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan lemahnya La Nina. Keadaan ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung terbentuknya awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Selain itu, suhu permukaan laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia juga memperkaya pasokan uap air yang mendukung terbentuknya awan hujan di Indonesia, jelas BMKG dalam Weekly Weather Outlook periode 16-22 Januari 2026.
BMKG juga memperkirakan dalam sepekan ke depan, terdapat potensi peningkatan gelombang dingin dari benua Asia. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya perbedaan tekanan udara dari Gushi yang disertai dengan peningkatan kecepatan angin tinggi di Laut Cina Selatan yang memperkuat masuknya monsun Asia lebih cepat dan mudah melintasi garis khatulistiwa, melalui Selat Karimata.
Hal ini berdampak pada meningkatnya kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia bagian selatan, khususnya Sumatera bagian selatan dan Jawa, kata BMKG.
(fby/bac)

