Site icon Pahami

Berita Sejarah Diaspora Yahudi di Indonesia, Berjaya Sebelum Kemerdekaan

Berita Sejarah Diaspora Yahudi di Indonesia, Berjaya Sebelum Kemerdekaan

Jakarta, Pahami.id

Kehadiran komunitas Yahudi Di Indonesia tidak banyak catatan mengenai kehadiran enam agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Selain jumlah penduduknya yang minim, keberadaan mereka juga tidak mencolok. Komunitas Yahudi Tondano, Sulawesi Utara, bisa dikatakan satu-satunya yang sering diberitakan.

Kini, setelah komunitas Yahudi India Bnei Menashe diundang ke Israel, komunitas Yahudi Tondano pun diundang untuk kembali ke negeri Benyamin Netahyahu. Rabbi Yaakov Baruch menceritakan tentang undangan ini.


“Tawarannya ada tapi tidak secara resmi, hanya secara tidak resmi,” kata Yaakov melalui pesan singkat, saat dihubungi Cnnindonesia.comRabu (26/11).

Yaakov nampaknya lebih memilih tinggal di Indonesia karena ingin menjaga komunitas Yahudi di sini yang memang jumlahnya sedikit.

Hadir sejak zaman kolonial

Kehadiran komunitas Yahudi di negeri ini jauh sebelum kemerdekaan. Tercatat mereka datang bersama pedagang rempah-rempah ke beberapa pulau.

Dalam Jurnal Keagamaan Universitas Gajah Mada tahun 2012, Leonard Chrysostomos Epafras menulis dalam “Realitas Sejarah dan Dinamika Identitas Yahudi di Nusantara” bahwa orang-orang Yahudi datang ketika Portugis masuk ke Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda.

“Kami mendapat informasi berdasarkan laporan misionaris Katolik dari Serikat Yesus (juga dikenal sebagai Jesuit), tentang keberadaan komunitas Yahudi di Malaka.

Salah satu motif mereka menetap di India dan Malaka adalah untuk menghindari pengadilan, yaitu pengadilan agama dalam Gereja Katolik yang memerangi kemurtadan. Sasarannya sebagian besar adalah orang Yahudi dan Muslim, yang sebelumnya telah dipaksa masuk Kristen. Investigasi paling aktif dilakukan di Spanyol dan Portugal.

Ketika Belanda datang dengan tujuan dagang yang sama, komunitas Yahudi terus berkembang. Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dibentuk pada tanggal 20 Maret 1602, mereka datang ke Indonesia untuk berdagang.

Padahal, saham terbesar perusahaan dagang ini dipegang oleh Isaac Le Maire, seorang pedagang dan investor keturunan Yahudi asal Wallonia (sekarang Belgia).

Karena semakin banyaknya orang Yahudi yang datang ke Hindia Belanda, pada tahun 1857, dua orang rabbi yang tinggal di Den Haag dan seorang rabi dari Rotterdam yaitu Bernstein, Ferares dan Isaacsohn menandatangani petisi kepada pemerintah Belanda.

Ketiganya mendukung permintaan salah satu tokoh Yahudi, Israel Benjamin, untuk berangkat ke Hindia Belanda guna membangun komunitas Yahudi yang kuat seperti yang telah didirikan di Hindia Barat alias Suriname.

Menurut Jeffrey Hadler dalam penelitiannya di University of California bertajuk The Translation of Antisemitism: Jews, Chinese and Violence in Colonial and Post-Colonial Indonesia, Benjamin merupakan salah satu orang pertama yang mengangkat fakta keberadaan komunitas Yahudi di Hindia Belanda, Cikal bakal Indonesia.

Namun kepada otoritas pemerintah Belanda, tiga rabi menyatakan bahwa komunitas Yahudi di Hindia Belanda tidak akan mampu menciptakan komunitas Yahudi yang kuat. Alasannya, status sosial yang rendah, kata rabi, akan menghambat upaya swadaya.

Ketiga rabbi tersebut akhirnya mendorong pemerintah Belanda untuk mengalokasikan dana untuk survei komunitas Yahudi di Hindia Belanda yang diprakarsai oleh Benyamin.

“Komunitas Yahudi di sana berhak mendapatkan sinagoga dan pemakaman khusus,” tulis Hadler, mengutip rabbi tersebut.

Meski sempat mendapat lamaran dari beberapa profesor dari universitas yang berpusat di Leiden dan Delft, Benjamin urung berangkat ke Hindia Belanda. Pemerintah Belanda menolak permintaan Benyamin. Perjalanan dibatalkan.

Empat tahun setelah kegagalan Benjamin, seorang utusan kerabian Yerusalem bernama Jacob Halevy Saphir (1822-1886), tiba di Batavia (Jakarta) pada tahun 1861. menyatakan keprihatinannya akan masa depan mereka karena mereka tidak melihat tradisi Yahudi dan banyak yang menikahi wanita non-Yahudi.

Saphir juga berpendapat bahwa atas permintaannya, masyarakat Amsterdam mengirimkan para rabi ke pulau-pulau tersebut yang mencoba menata kehidupan masyarakat di Batavia dan di Semarang. Namun sang rabi meninggal sebelum menyelesaikan karyanya, demikian tulis Ayala Klemperer-Markman, dikutip dari Situs Theindoproject, sebuah website tentang orang Belanda yang pernah tinggal di Hindia Belanda.

Pada tahun 1921, pemodal Zionis Israel Cohen mengunjungi Jawa. Ia mengatakan saat itu ada sekitar 2.000 orang Yahudi yang tinggal di Pulau Jawa. Pada tahun 1920-an, komunitas Yahudi mulai muncul ketika muncul perkumpulan kepentingan Yahudi di Hindia Belanda dan Konferensi Zionis Dunia (WZC) di kota-kota seperti Batavia, Bandung, Malang, Medan, Padang, Semarang dan Yogyakarta.

Organisasi yang berkantor pusat di London ini didirikan pada tahun 1920 dan berfungsi sebagai organisasi penggalangan dana untuk mendukung gerakan Zionis.

Bersambung di halaman berikutnya…

Esai tentang sejarah Yahudi di Indonesia yang ditulis oleh Wardani Dwi Jayanti dari Universiti Sebelas Maret, Solo, menggambarkan masa keemasan komunitas ini, yakni pada tahun 1926-1942.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa komunitas Yahudi di Indonesia pada tahun 1926 hingga 1942 mampu menyelenggarakan dan menyelenggarakan pertemuan dan organisasi keagamaan secara bebas tanpa tekanan antisemitisme.

Ibadah agama Yudaisme juga dilakukan oleh masyarakat Yahudi pada tahun 1926-1942 secara pribadi dan komunal.

Selain itu, sensus penduduk yang dilakukan pemerintah kolonial pada tahun 1930 mencatat keberadaan 1.095 orang Yahudi di Hindia Belanda. Pada akhir tahun 1930-an, jumlahnya meningkat menjadi 2.500 di seluruh Jawa, Sumatra, dan wilayah kecil lainnya di Hindia Belanda.

Catatan dari Sutus Jewishvirtallibrary menuliskan bahwa pada tahun tersebut banyak komunitas Yahudi yang berasal dari Belanda, Bagdad, dan Aden.

Sebagian besar orang Yahudi Bagdad menetap di Surabaya. Menurut catatan, orang-orang Yahudi datang ke Indonesia untuk menghindari penganiayaan yang mulai meningkat di Eropa.

Di Surabaya misalnya, pada periode itu terdapat 500 orang keturunan Yahudi. Pada periode ini, komunitas Yahudi Surabaya mampu menjalankan ibadahnya dengan lebih tenang dan sopan dibandingkan komunitas Yahudi di Eropa karena sentimen antisemit mulai meningkat. Di kota pahlawan ini juga terdapat sinagoga, tempat ibadah umat Yahudi.

Namun kenyamanan tanah air Yahudi mulai terganggu ketika Jepang datang. Aliansi Jepang dengan Jerman di bawah Adolf Hitler berdampak besar terhadap perlakuan antisemitisme Jepang terhadap komunitas Yahudi Indonesia yaitu Ashkenazi, Sephardic dan Mizrahi.

Kamp interniran dibangun untuk menampung tawanan perang Jepang, termasuk orang Yahudi, di Indonesia. Berdirinya Negara Israel pada tahun 1948 dan konflik dengan Palestina juga berdampak pada komunitas Yahudi di negara ini.

Kebijakan luar negeri pemerintah Indonesia sejak Kemerdekaan yang belum membuka hubungan diplomatik dengan Israel tentu berdampak pada merosotnya komunitas Yahudi di sini.

Gejolak pasca kemerdekaan memaksa sebagian warga Yahudi Belanda mengungsi ke negara asalnya, Australia dan Amerika Serikat. Beberapa dari mereka kemudian pindah ke Israel, menurut situs tersebut.

Sebagai komunitas yang beragama, orang Yahudi masih bisa menjalankan ibadahnya. Misalnya, masyarakat Yahudi di Sulawesi Utara misalnya, masih bisa beribadah di sinagoga. Di Indonesia, satu-satunya sinagoga agama Yahudi ada di Tondano, Minahasa. Setiap Sabat, penganut Yudaisme asal Manado berangkat ke Tondano untuk mengamalkan ajarannya.

Konstitusi Indonesia pada Pasal 29 UUD 1945 memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk beragama. Meskipun Indonesia secara resmi hanya mengakui enam agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu), namun kepercayaan di luar keenam agama tersebut masih bisa beroperasi.

Teks UU tersebut adalah Pasal 29 ayat 1 yang berbunyi: “Negara ini berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Pasal 29 Ayat 2 berbunyi: “Negara menjamin kebebasan setiap penduduk untuk memeluk agamanya sendiri dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya.”

Serangan brutal Israel di Gaza dalam dua tahun terakhir yang menewaskan lebih dari 60 ribu orang tak berdosa, jelas berdampak pada hubungan antara Yahudi dan masyarakat Indonesia.

Mungkin hal itulah yang membuat organisasi Yahudi di Israel mengajak komunitas Yahudi Tondano untuk bergerak. Namun, Rabbi Yaakov yang merupakan pemimpin di Indonesia belum mau mengiyakan.

“Saya sudah lama ditawari, tapi dari awal saya katakan karena masih ada hal penting yang harus saya lakukan yaitu mengurus sinagoga dan komunitas Yahudi Indonesia, saya tidak bisa melakukannya saat ini,” kata Yaakov. Pahami.id.



Exit mobile version