Berita Seberapa Cepat Iran Perkaya Uranium Jadi Bom Nuklir?
Pahami.id
Jakarta, Pahami.id —
Presiden Amerika SerikatDonald Trump berperang melawan Iran pada tanggal 28 Februari, salah satunya adalah dampak dari program nuklir Teheran.
Trump menegaskan dia ingin menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium Iran, yang dituduh Iran akan memproduksi senjata nuklir.
Iran menolak, mengklaim bahwa uraniumnya digunakan untuk tujuan sipil saja. Salah satunya, untuk pembangkit listrik, membutuhkan pengayaan uranium sekitar tiga hingga 5 persen.
Uranium adalah logam padat yang digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir dan senjata. Di alam, uranium bersifat radioaktif dan biasanya ditemukan dalam konsentrasi rendah di bebatuan, tanah, dan bahkan air laut.
Uranium diekstraksi dengan menggalinya dari dalam tanah atau melalui proses kimia yang melarutkan uranium dari batuan.
Sebelum dapat digunakan sebagai bahan bakar nuklir, uranium diproses melalui beberapa tahapan berbeda, antara lain kue kuning, uranium tetrafluorida, uranium heksafluorida, uranium dioksida, dan pelet bahan bakar.
Yellowcake adalah proses pengolahan bijih menjadi bubuk kasar dengan bahan kimia. Uranium tetrafluorida mengubah kue kuning menjadi gas hidrogen fluorida, yang akhirnya menghasilkan kristal hijau zamrud.
Uranium heksafluorida mengubah garam hijau menjadi kristal putih melalui proses fluorinasi. Kristal-kristal ini dapat berubah menjadi gas ketika dipanaskan, sehingga siap untuk diperkaya.
Uranium dioksida, pada gilirannya, mengubah gas menjadi bubuk halus berwarna hitam. Gas dipertukarkan dalam centrifuge.
Pelet bahan bakar kemudian mengubah bubuk tersebut menjadi pelet keramik hitam, yang dapat digunakan dalam reaktor nuklir.
Bersambung di halaman berikutnya…
Uranium alam ada dalam tiga bentuk, yang disebut isotop. Ketiganya merupakan unsur yang sama, dengan jumlah proton yang sama tetapi jumlah neutron yang berbeda.
Uranium alam terbanyak (99,3 persen) adalah U-238. Ini adalah yang terberat dan paling sedikit radioaktifnya.
Sedangkan uraniumnya 0,7 persen yaitu U-235 dan sedikitnya 0,005 persen yaitu U-234.
Untuk menghasilkan energi, para ilmuwan memisahkan U-235, yang lebih ringan dan lebih radioaktif dibandingkan U-238, dalam proses yang disebut pengayaan uranium. U-235 dapat memicu reaksi berantai nuklir sedangkan U-238 tidak.
Untuk memperkaya uranium, terlebih dahulu harus diubah menjadi gas yang dikenal sebagai uranium heksafluorida. Gas ini kemudian dimasukkan ke dalam serangkaian silinder yang berputar cepat yang disebut proses sentrifugasi.
Silinder ini berputar dengan kecepatan sangat tinggi, seringkali lebih dari 1.000 putaran per detik. Gaya rotasi mendorong U-238 ke dinding luar, sedangkan U-235 tetap berada di tengah dan terkumpul.
Sentrifugasi hanya menghasilkan isolasi dalam jumlah yang sangat kecil. Untuk mencapai konsentrasi yang lebih tinggi, proses diulangi melalui serangkaian sentrifugasi yang disebut kaskade, hingga konsentrasi U-235 yang diinginkan tercapai.
Semakin tinggi persentase U-235, semakin tinggi pula pengayaan uraniumnya.
Sejumlah kecil U-235 (3-5 persen) cukup untuk menggerakkan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir. Padahal untuk membuat senjata nuklir diperlukan tingkat pengayaan yang jauh lebih tinggi yakni sekitar 90 persen.
Uranium yang sudah habis, mengandung kurang dari 0,3 persen U-235, merupakan produk limbah setelah pengayaan. Uranium ini dapat digunakan untuk perisai radiasi atau sebagai amunisi senjata penusuk lapis baja.
Berapa lama proses pengayaan uranium?
Proses pengayaan uranium tidak linier. Artinya, meningkatkan kadar uranium alam dari 0,7 persen menjadi 20 persen lebih sulit dibandingkan dari 20 persen menjadi 90 persen.
Ketika uranium mencapai 60 persen, proses untuk mencapai tingkat uranium yang dapat digunakan untuk senjata nuklir jauh lebih cepat.
Uranium Iran sendiri sudah mencapai 60 persen.
“Untuk mencapai 60 persen pengayaan uranium alami, yang telah dicapai Iran, akan memakan waktu sekitar lima tahun, dan sekitar 5.000 Short Water Uranium menggunakan sistem pengayaan multi-tahap Iran,” kata Ted Postol, profesor emeritus sains, teknologi, dan keamanan internasional di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
“Kalau saya mau naik dari 60 sampai 90 persen, saya hanya butuh 500 SWU. Jadi dari pada lima tahun, mulai dari 60 persen di sini mungkin hanya empat atau lima minggu,” lanjutnya. Al Jazeera.