Site icon Pahami

Berita Rekam Jejak Pakistan Jadi Sorotan di Tengah Upaya Mediasi AS-Iran

Berita Rekam Jejak Pakistan Jadi Sorotan di Tengah Upaya Mediasi AS-Iran


Jakarta, Pahami.id

upaya Pakistan memposisikan dirinya sebagai fasilitator diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran telah menuai kritik dari beberapa pihak yang mempertanyakan kredibilitas Islamabad sebagai pihak netral.

Menurut analis politik, Mirza Ahmad, Pakistan disebut-sebut ingin tampil sebagai perantara diplomatik penting di kawasan, namun memiliki rekam jejak panjang yang merusak kepercayaan internasional.

“Diplomasi dibangun atas dasar kredibilitas, bukan kenyamanan,” kata Mirza.


Menurutnya, sejak didirikan pada tahun 1947, Pakistan telah menunjukkan pola sering melanggar perjanjian ketika bertentangan dengan kepentingan strategis atau ideologinya sendiri.

Mirza menyinggung invasi kelompok bersenjata ke Kashmir pada Oktober 1947 yang didukung Pakistan sebelum pemerintah memutuskan bergabung dengan India. Peristiwa ini disebut-sebut menjadi awal konflik berkepanjangan antara India dan Pakistan di Kashmir.

Selain itu, Mirza juga menyoroti Perjanjian Simla tahun 1972 dan Deklarasi Lahore yang bertujuan untuk menjaga penyelesaian sengketa kedua negara secara damai. Namun, menurutnya, konflik Kargil tahun 1999 kembali menunjukkan pelanggaran terhadap komitmen tersebut.

Mirza juga menyinggung krisis Pakistan Timur tahun 1971, ketika tentara Pakistan Barat dituduh melakukan pembantaian besar-besaran terhadap warga Bengali. Pakistan juga dikritik karena perangnya melawan teror setelah serangan 11 September 2001.

“Pakistan menerima miliaran dolar bantuan AS untuk memerangi terorisme, namun Osama bin Laden ditemukan tinggal di Abbottabad, dekat akademi militer utama Pakistan,” kata Mirza.

“Serangan AS pada tahun 2011 tidak hanya mengungkap para pemimpin teroris, tapi juga mengungkap negara yang dibangun di atas praktik tidak jujur,” lanjutnya.

Masalah rumah tangga

Mirza juga menyoroti permasalahan dalam negeri Pakistan, termasuk undang-undang pencemaran nama baik dan kekerasan geng yang menurutnya masih mengancam kelompok minoritas seperti Kristen, Hindu, Ahmadiyah, dan Syiah. Dia mempertanyakan bagaimana Pakistan dapat dipercaya untuk membentuk diplomasi di salah satu kawasan paling sensitif di dunia.

Isu proliferasi nuklir Pakistan juga dipertanyakan. Pakistan disebut tidak pernah menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), sementara jaringan ilmuwan Abdul Qadeer Khan dituduh menjual teknologi nuklir ke Iran, Korea Utara, dan Libya.

Mirza menilai posisi Pakistan semakin rumit karena Islamabad tidak mengakui legitimasi Israel.

“Bagaimana sebuah negara yang tidak mengakui legitimasi Israel dapat dipercaya sebagai perantara yang jujur ​​dalam proses yang berhubungan langsung dengan keamanan Israel?” katanya.

Relevansi strategis

Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir disebut ingin menampilkan Pakistan sebagai pemain geopolitik utama. Namun, menurut Mirza, rekam jejak Pakistan membuat klaim netralitas diplomatik sulit diterima.

Ia juga menyinggung laporan mengenai aliansi pertahanan Pakistan-Arab Saudi yang dinilai semakin mengaitkan Islamabad dengan dinamika keamanan di Timur Tengah.

“Pakistan memasuki arena ini bukan sebagai aktor netral, melainkan sebagai negara bersenjata nuklir yang memiliki kepentingan strategisnya sendiri,” kata Mirza.

Namun, dia mengakui bahwa Pakistan masih memiliki relevansi strategis di kawasan. Namun, kata Mirza, relevansi tidak sama dengan netralitas atau kepercayaan.

Oleh karena itu, Mirza menilai setiap proses diplomasi yang melibatkan Pakistan, khususnya terkait Iran, Arab Saudi, dan Israel, harus disertai dengan pembatasan yang ketat dan verifikasi yang mendalam.

Ia memperingatkan dunia agar tidak mengulangi kesalahan lama yang menyamakan utilitas taktis dengan keyakinan strategis.

(Dna)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google




Exit mobile version