Surabaya, Pahami.id —
Pemerintah Provinsi Jawa Timur berencana untuk melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga Februari 2026 diperkirakan terjadi cuaca ekstrem.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur telah menerapkan OMC sejak Desember 2025 untuk mengurangi dampak cuaca buruk.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan, OMC akan berlanjut hingga 31 Januari. Menurut dia, berdasarkan data BMKG, intensitas hujan pada Februari masih cukup tinggi.
“Pada Februari 2026 persentase curah hujan di Jatim masih berkisar 22 persen,” kata Gatot saat dikonfirmasi, Senin (26/1).
Gatot mengatakan, keputusan akhir mengenai kelanjutan sebaran garam di awan bergantung pada hasil analisis komprehensif BMKG terkait prakiraan cuaca Februari 2026.
Jika terdeteksi kuat potensi cuaca ekstrem, Pemprov Jatim akan segera berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memperpanjang masa operasional.
“Apakah OMC perlu melakukan kegiatan lebih lanjut atau tidak, kami akan mempertimbangkan data dari BMKG,” imbuhnya.
Terkait teknis pelaksanaannya, Gatot mengakui adanya tantangan berupa terbatasnya armada pesawat. Hal ini menjadi kendala mengingat luasnya wilayah Jawa Timur yang harus dijangkau oleh tim operasional.
Namun saat ini pihaknya memprioritaskan OMC di wilayah terdampak banjir mulai dari kawasan Tapal Kuda seperti Situbondo hingga kawasan Lamongan.
Masalahnya di wilayah itu, karena Jatim sangat luas. Tapi sekarang kita fokus di daerah banjir, kita jalankan OMC agar tidak terjadi hujan lebat dan banjir cepat surut, kata Gatot.
Puncak musim hujan di Jawa Timur
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menyatakan sebagian besar wilayah Jawa Timur sudah memasuki puncak musim hujan. Hal ini juga dibarengi dengan peningkatan risiko cuaca ekstrem.
Kepala BMKG Juanda Taufiq Hermawan menjelaskan fenomena alam seperti hujan lebat, angin kencang, dan hujan es diperkirakan akan menghantui wilayah Jawa Timur dalam sepuluh hari ke depan.
“Saat ini seluruh wilayah Jatim sedang memasuki musim hujan dan ada beberapa wilayah yang diprediksi sudah memasuki puncak musim hujan. Diperkirakan dalam 10 hari ke depan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” kata Taufiq.
Taufiq menjelaskan, sebagian besar wilayah yang masuk dalam daftar siaga potensi cuaca ekstrem pada periode 21-30 Januari 2026 antara lain Kabupaten Banyuwangi, Kota Batu, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kota Kediri, Kabupaten Magetan, Kota Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Blitar, Kabupaten Bojonegoro.
Kemudian Kabupaten Jombang, Kabupaten Kediri, Kota Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Sampang, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Tuban.
Kemudian Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Madiun, Kota Mojokerto, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Gresik, Kota Blitar, Kota Probolinggo, Kota Surabaya, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Trenggalek, Kota Madiun, dan Kabupaten Pacitan.
Berdasarkan analisis BMKG, situasi tersebut dipicu oleh aktifnya monsun Asia. Secara teknis, Taufiq menjelaskan, gangguan Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer Equatorial Rossby menjadi pemicu utama terbentuknya awan konvektif berskala besar. Selain itu, suhu permukaan laut di perairan Selat Madura yang masih hangat juga memberikan pasokan uap air yang cukup besar bagi pertumbuhan awan hujan.
Suhu permukaan laut perairan Selat Madura masih cukup signifikan selain kondisi atmosfer lokal yang belum stabil juga mendukung tumbuhnya awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, ujarnya.
Secara umum, puncak musim hujan di wilayah Jawa Timur diperkirakan berlangsung pada bulan Januari hingga Februari 2026, meski ada beberapa daerah yang sudah melewati fase puncaknya pada akhir tahun 2025.
(fra/frd/fra)

