Jakarta, Pahami.id —
Parlemen Filipina mempertimbangkan untuk melanjutkan upaya untuk memakzulkan Presiden Ferdinand Marcos Jr (Bongbong) karena serangkaian tuduhan.
Panitia Yudisial DPR pada Selasa (3/2) menggelar sidang untuk menentukan “substansi” kelanjutan pengaduan dan usulan pemakzulan Marcos.
Ketua komite kehakiman DPR, Gerville Luistro, mengatakan para anggota akan memutuskan apakah tuduhan pelanggaran terhadap Marcos cukup untuk memakzulkan presiden.
“Tidak cukup hanya seorang pejabat yang bisa dimakzulkan melakukan kesalahan,” kata Luistro. Reuters.
“Kesalahannya pasti merupakan pelanggaran yang dapat berujung pada pemecatan,” imbuhnya.
Komite Kehakiman DPR sebelumnya menerima dua pengaduan terpisah mengenai Marcos Jr. Beberapa dakwaan tersebut antara lain mengkhianati kepercayaan publik, korupsi, dan melanggar konstitusi.
Marcos dituduh menyalahgunakan kekuasaannya dalam membelanjakan dana publik yang berujung pada skandal korupsi terkait proyek pengendalian banjir.
Salah satu pengaduan juga menyebutkan dugaan penggunaan narkoba yang dilakukan Marcos membuatnya tidak layak memimpin negara. Dia membantah semua tuduhan tersebut.
“Bahkan sebelumnya, presiden telah mengatakan bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa pun, tidak melanggar hukum, dan tidak melakukan apa pun yang dapat mengarah pada pemakzulan,” kata petugas pers kepresidenan Claire Castro, Senin.
Kembali ke komite, apapun keputusan mereka akan diajukan ke majelis rendah Kongres untuk melanjutkan pemakzulan.
DPR harus memperoleh dua pertiga suara untuk menggulingkan Marcos Jr.
Jika dakwaan terhadap Marcos berhasil, ia akan menjadi kepala negara Filipina kedua yang dimakzulkan setelah Joseph Estrada.
Sejauh ini, lima pejabat tinggi Filipina, termasuk Wakil Presiden Sara Duterte, telah didakwa. Dari jumlah tersebut, hanya satu orang, mantan ketua Mahkamah Agung, yang dinyatakan bersalah dan diberhentikan dari jabatannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara faksi Marcos dan Duterte tegang. Keretakan ini tentu berdampak pada dinamika politik di Filipina, karena merekalah yang berkuasa di sana.
(isa/rds)

