Site icon Pahami

Berita Prancis Dukung Demo Iran, Tapi Ogah Siapkan Operasi Militer Seperti AS

Berita Prancis Dukung Demo Iran, Tapi Ogah Siapkan Operasi Militer Seperti AS


Jakarta, Pahami.id

Prancis menyatakan dukungannya terhadap gelombang demonstrasi di Irannamun menolak opsi intervensi militer sebagaimana yang diberikan Amerika SerikatTpada Minggu (25/1).

“Kita harus mendukung rakyat Iran dengan cara apa pun,” kata Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Alice Rufo dalam program politik Le Grand Jury, seperti dikutip. AFP.


Namun, intervensi militer bukanlah pilihan prioritas (bagi Prancis). Terserah rakyat Iran untuk menyingkirkan rezim ini, tambahnya.

Rufo menegaskan, nasib rakyat Iran ada di tangan mereka sendiri, bukan pihak luar yang berhak menentukan kepemimpinan negara.

“Rakyat Iran menolak rezim mereka. Nasib rakyat Iran terletak di tangan rakyat Iran sendiri, dan bukan tugas kita untuk memilih pemimpin mereka,” kata Rufo.

Dia juga mencatat kesulitan untuk “mendokumentasikan kejahatan besar-besaran yang dilakukan oleh rezim Iran terhadap rakyatnya” karena pemadaman internet yang meluas.

Lebih dari 90 juta warga Iran kehilangan akses internet sejak pemerintah memberlakukan pemadaman listrik pada 8 Januari, di tengah gelombang protes massal yang melanda negara itu.

[Gambas:Video CNN]

Dalam situasi ini, aparat keamanan melancarkan tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa.

Organisasi hak asasi manusia mencatat ribuan kematian, sementara LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia memperkirakan jumlah korban bisa melebihi 25.000 orang.

Pemerintah Iran sendiri menyebutkan jumlah korban tewas sebanyak 3.117 orang, termasuk 2.427 orang yang dikategorikan sebagai “martir”.

Istilah ini digunakan untuk membedakan pasukan keamanan dan warga sipil dari apa yang pihak berwenang sebut sebagai “kerusuhan” yang dituduh dihasut oleh AS dan Israel.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan melancarkan serangan militer terhadap Iran sebagai tanggapan atas tindakan keras tersebut.

Namun belakangan Trump tampak melunakkan pendiriannya setelah mengatakan Teheran menunda rencana eksekusi.

Gelombang protes yang awalnya dipicu oleh masalah ekonomi pecah di Teheran pada tanggal 28 Desember, sebelum berkembang menjadi gerakan luas yang menuntut penghapusan sistem keagamaan yang telah memerintah Iran sejak Revolusi 1979.

(rnp/bac)



Exit mobile version