Site icon Pahami

Berita Pesan SBY ke Trump dan Khamenei soal Potensi Perang AS-Iran

Berita Pesan SBY ke Trump dan Khamenei soal Potensi Perang AS-Iran


Jakarta, Pahami.id

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti diskusi dan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sedang berjalan. Menurut SBY, banyak pihak yang menantikan hasil perundingan tersebut, terutama negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Diakui SBY, dalam proses perundingan khususnya mengenai masa depan proyek nuklir Iran sangat rumit dan tidak mudah untuk mengembangkan opsi yang dapat diterima kedua belah pihak.

Sebab, kepentingan kedua negara sangat berbeda. Menurut SBY, saat perundingan sedang berlangsung, di kawasan Timur Tengah ada dua negara yang siap berperang.


Konsultan juga harus pintar membaca pikiran kedua pemimpin yang memberi mandat, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun ‘harmoni’ antara negosiator dan atasannya mungkin juga tidak mudah, tulis SBY melalui akun X pribadinya @SBYudhoyono, Jumat (27/2).

Memiliki pengetahuan dan pengalaman penyelesaian konflik, baik nasional maupun internasional, SBY mengaku sempat mengatakan bahwa perundingan tersebut sangat melelahkan.

“Hal ini membutuhkan kesabaran, kecerdasan dan keuletan. Bersedia berkompromi dan bersiapmengambil dan memberi‘. Maksud dan tujuan yang digariskan kedua pemimpin negara juga perlu dipahami secara utuh, tambah SBY.

Khusus perundingan AS-Iran, SBY menilai kedua pemimpinnya, Donald Trump dan Ali Khamenei sudah ‘keunikan‘. Keduanya juga mempunyai ego, ambisi dan juga ‘kepentingan pribadi‘.

“Trump khawatir jika dia gagal, reputasinya danwarisan‘Keindahan yang ingin diraih bisa saja hancur. Ali Khamenei juga khawatir bahwa perselisihan sengit dengan Amerika ini, jika tidak menguntungkan, dapat berakhir dengan pergantian rezim dan ‘dia harus pergi’. Artinya, ini adalah ‘pentingnya kelangsungan hidup‘ untuk para pemimpin Iran,” kata SBY.

Menurut SBY, banyak pihak yang meramalkan atau menyimpulkan jika perundingan tersebut gagal, maka akan segera terjadi perang besar. Sepertinya kondisinya sudah siap. Tinggal menunggu perintah dari Trump dan Khamenei.

Menurut saya, terjadinya perang yang sepertinya tidak bisa dihindari, bisa saja terjadi, bisa saja terjadi, bisa saja terjadi, apalagi jika para jenderal kedua belah pihak terus memantau keputusan pemimpinnya, kata SBY.

Trump dan Khamenei, kata SBY, tidak akan sembarangan memerintahkan pasukannya untuk berperang. Risiko dan harga yang harus mereka bayar terlalu tinggi jika mereka mengambil keputusan yang salah.

Catatan untuk Panglima Tertinggi

SBY menulis catatan penting untuk “panglima tertinggi“menggunakan perang untuk memenuhi kepentingan negaranya.

Pertama, kata SBY, apakah perang harus dilakukan atau ada pilihan lain? Ini sering disebut “perang karena kebutuhan“Dan”perang pilihan“Akhirnya, menurut Ketua Umum Partai Demokrat, kedua belah pihak akan memutuskan berperang atau mengambil jalan lain.

Kedua, suatu negara siap berperang jika perhitungan rasionalnya menjamin bahwa perang tersebut dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei, kata SBY, harus bisa meyakinkan diri sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehat, bahwa perang yang mereka pilih memang bisa dimenangkan.

“Karena perang berkaitan dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan amanah dan kepercayaan, maka suara mereka harus didengar. Pertimbangan dan rekomendasi para jenderal dan perwira militer juga perlu mendapat perhatian, bukan dikubur dengan ego pemimpin yang terlalu tinggi,” kata SBY.

Bagi Amerika, menurut SBY yang bisa dikatakan terus berkoar-koar menghancurkan Iran (padahal belakangan ini Iran juga menghasut dan menjanjikan ancaman), perlu berpikir matang sebelum memutuskan berperang.

Maksud saya, mungkin bagi Amerika untuk memenangkan perang itu sulit dicapai, jadi exit atau mengakhiri perang juga tidak mudah dilakukan. Ingat pengalaman pahit saat berperang di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan, kata SBY.

Terakhir, tambah SBY, ada pesan dari warga negara Indonesia dan juga warga dunia melalui media tersebut. Tidak hanya bagi Presiden Trump dan Ayatollah Khamenei, tetapi juga bagi seluruh pemimpin politik di dunia yang memegang kendali untuk memulai perang.

(tim/dal)


Exit mobile version