Jakarta, Pahami.id —
Tiga orang terluka dalam insiden tersebut penembakan misa di sebuah sekolah di Hat Yai, Thailand selatan, pada Rabu (11/2) waktu setempat.
Kementerian Kesehatan Masyarakat mengatakan seorang wanita dan seorang gadis berusia 14 tahun dibawa ke rumah sakit karena luka tembak dan keduanya menjalani operasi. Sementara seorang anak lainnya mengalami cedera engkel setelah terjatuh dari ketinggian.
Kepala sekolah tempat terjadinya penembakan kemudian dilaporkan meninggal dunia pada Kamis pagi (12/2) karena luka-luka.
Polisi Thailand berhasil menembak dan menangkap penjahat yang memasuki sekolah dengan membawa senjata.
“Polisi menembak tersangka dalam insiden penembakan di Hat Yai,” kata Biro Investigasi Pusat Thailand, dikutip AFP.
Pemerintah Provinsi Songkhla mengatakan, tersangka masuk ke Sekolah Phatong Prathan Khiriwat dalam keadaan gelisah sambil membawa senjata.
“Segera setelah pelaku masuk, terdengar sekitar dua hingga tiga kali suara tembakan,” imbuhnya.
Seorang administrator sekolah mengatakan dia berada di lokasi kejadian dan terlalu takut untuk berbicara sebelum menutup telepon.
Thailand merupakan salah satu negara dengan tingkat kepemilikan senjata tertinggi di kawasan ini, dengan perkiraan 10 juta senjata api beredar, satu senjata untuk setiap tujuh penduduk.
Upaya untuk memperketat peraturan senjata tidak dapat mencegah terulangnya tragedi.
Pada tahun 2023, seorang anak laki-laki (14), yang menurut penyelidik sedang dirawat karena gangguan mental, menembak mati dua orang di sebuah pusat perbelanjaan yang sibuk di Bangkok.
Tahun sebelumnya, mantan polisi bersenjatakan senjata dan pisau menyerbu sebuah panti asuhan di bagian utara negara itu dan membunuh 24 anak-anak dan 12 orang dewasa.
Selain itu, seorang mantan perwira militer menembak 29 orang dalam serangan brutal di sebuah pusat perbelanjaan di Nakhon Ratchasima, timur laut Thailand, pada tahun 2020.
(rnp/dna)

