Jakarta, Pahami.id —
Para pemimpin Kristen di Yerusalem memperingatkan bahwa ideologi Kristen Zionisme dapat mengancam masa depan komunitas Kristen di Tanah Suci dan kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya pada Sabtu (17/1), para Patriark dan Pemimpin Gereja di Yerusalem mengatakan ideologi tersebut dapat menyesatkan masyarakat dan melemahkan persatuan komunitas Kristen tertua di dunia.
“Sangat mengkhawatirkan bahwa para pendukung Zionisme Kristen justru diterima di tingkat resmi, baik secara lokal maupun internasional,” kata para pemimpin tersebut. Mata Timur Tengah.
Para pemimpin Kristen di Yerusalem telah lama menyuarakan keprihatinan mengenai pengaruh Kristen Evangelis terhadap kebijakan AS terhadap Israel. Kebijakan tersebut memperkuat dukungan finansial dan politik Washington terhadap Tel Aviv.
Mereka juga menekankan kebijakan Israel, seperti penyitaan tanah dan perluasan permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, yang dinilai semakin mempersempit ruang hidup komunitas Kristen.
Laporan terbaru Dewan Patriark dan Kepala Gereja di Yerusalem menyebutkan bahwa kebijakan tersebut, termasuk pajak, dinilai tidak adil dan mengancam eksistensi gereja dan umat Kristiani, khususnya di Yerusalem Timur.
“Ada kebutuhan mendesak untuk melindungi komunitas Kristen dan tempat ibadah di Tepi Barat, di mana serangan pemukim semakin menargetkan gereja, jemaat, dan properti kami,” kata para pemimpin tersebut mengenai laporan tersebut.
Pada hari Rabu, Komite Tinggi Kepresidenan untuk Urusan Gereja di Palestina mengeluarkan pernyataan yang mengecam pembatasan izin kerja yang dilakukan Israel terhadap guru-guru dari Tepi Barat.
Keadaan ini juga berdampak pada sektor pendidikan, khususnya pada lembaga pendidikan Kristen.
Sejumlah sekolah Kristen di Yerusalem pun memutuskan menghentikan kegiatan belajar mengajar dan mengadakan mogok kerja besar-besaran sebagai bentuk protes.
Alasan protes adalah kebijakan tersebut mengancam pendidikan Palestina dan kelangsungan hidup komunitas Kristen di kota suci tersebut.
(rnp/bac)

