Jakarta, Pahami.id —
Sejumlah sumber daya di pemerintahan Amerika Serikat mengaku dia tidak punya bukti Iran akan menyerang lebih dulu mengenai operasi 28 Februari.
Pemerintahan AS di bawah Donald Trump mengetahui rencana serangan Iran. Namun, tidak ada informasi bahwa Iran menyerang mereka terlebih dahulu.
Pejabat pemerintah yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa AS memutuskan untuk melancarkan serangan tersebut karena ada tanda-tanda Iran mungkin akan menyerang pasukan AS di Timur Tengah.
Mungkin sebagai tindakan pencegahan, kata pejabat itu, dikutip Reuters, Senin (2/3).
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintah menyadari potensi Iran untuk menyerang pangkalan militer AS setelah mereka diserang oleh Israel. Sebelum tanggapan Iran terjadi, AS melancarkan serangan pendahuluan.
“Kami tahu akan ada tindakan dari Israel,” kata Rubio seperti dikutip di Capitol Hill, Senin (2/3). Al Jazeera.
Dia kemudian berkata, “Kami tahu hal itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika. Dan kami tahu bahwa jika kami tidak menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka melancarkan serangan, kami akan menderita lebih banyak korban.”
Seorang pejabat mengatakan Trump tidak akan berdiam diri dan melihat pasukan AS menjadi sasaran Iran atau menolak serangan mereka. Oleh karena itu, AS menyerang lebih dulu.
Pejabat lain menggambarkan pengarahan yang diadakan pada hari Senin. Pejabat Departemen Pertahanan memberi pengarahan kepada staf Partai Demokrat dan Republik di beberapa komite keamanan nasional di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat selama lebih dari 90 menit.
Dalam pengarahan tersebut, para pejabat pemerintah menekankan bahwa rudal balistik Iran dan kekuatan proksinya di kawasan merupakan ancaman nyata bagi kepentingan AS.
Namun, sumber itu menjelaskan, belum ada informasi intelijen mengenai Iran yang menyerang militer AS terlebih dahulu.
Trump mengatakan serangan AS-Israel bertujuan untuk memastikan Iran tidak dapat memperoleh senjata nuklir, mengekang program misilnya, dan menghilangkan ancaman terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Trump telah berulang kali meminta rakyat Iran untuk bangkit dan menggulingkan pemerintah.
AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari. Akibat operasi tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas.
Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan pada hari Sabtu. Iran baru mengonfirmasinya keesokan harinya.
Di hari pertama peluncuran operasi AS-Israel, Iran langsung membalas serangan mereka.
Iran pun membalas serangan tersebut dengan skala yang lebih besar dibandingkan sebelumnya setelah Khamenei secara resmi dinyatakan meninggal. Mereka menargetkan pangkalan militer Israel dan AS di Timur Tengah.
(isa/dna/bac)

