Site icon Pahami

Berita MPR Minta Prabowo Penuhi Janji soal BoP Usai AS-Israel Serang Iran

Berita MPR Minta Prabowo Penuhi Janji soal BoP Usai AS-Israel Serang Iran


Jakarta, Pahami.id

Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menuntut janji pemerintah Indonesia terkait kehadirannya di Dewan Perdamaian (Dewan Perdamaian/BoP) yang diprakarsai dan dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Hal ini disampaikannya setelah Trump memimpin negaranya bekerja sama dengan Israel untuk menyerang Iran sehingga menyebabkan konflik regional di Timur Tengah memanas selama bulan Ramadhan.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mempertanyakan janji pemerintah keluar dari BoP bentukan Trump karena dinilai tidak mengikuti visi awal menciptakan perdamaian, khususnya di kawasan Timur Tengah. Hidayat menegaskan langkah AS yang kini justru memicu perang dengan Iran, dan menyeret negara lain di kawasan Timur Tengah.


“Tapi ternyata yang terjadi adalah perang terjadi di mana-mana. Jadi saya kira sangat baik beliau mempertimbangkannya secara serius, bahkan lebih dari 64 tokoh, 60 ormas juga menandatangani petisi untuk mengeluarkan Indonesia dari BoP,” kata Hidayat di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (3/3).

Politisi senior UKM itu kemudian mengapresiasi tuntutan sejumlah ormas agar Indonesia keluar dari BoP menyusul memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah pasca serangan AS-Israel ke Iran yang juga menewaskan pemimpin tertinggi negara, Ayatullah Ali Khamenei.

Hidayat menyatakan tidak ingin Indonesia dijadikan stempel dan legitimasi bagi AS untuk memperluas perang.

“Karena BoP justru mengembangkan perang,” ujarnya.

Ternyata dengan adanya BoP, perang tidak berhenti, malah meluas ke mana-mana, lanjut Hidayat.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid di Kompleks Parlemen, Jakarta. (Pahami.id/Feri Agus Setyawan)

MUI sebelumnya terang-terangan mengkritisi sikap Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) yang digagas dan dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump dalam isu stabilitas Gaza dan Timur Tengah.

MUI mempertanyakan posisi Dewan Perdamaian – yang juga merupakan anggota Indonesia – ketika AS justru bekerja sama dengan Israel untuk membombardir Iran dengan roket atau rudal.

Menurut MUI, AS dalam konflik ini sebenarnya berperan melalui Dewan Perdamaian.

“Untuk itu, MUI mendesak pemerintah Indonesia untuk menarik keanggotaan dari BoP karena dianggap tidak efektif dalam menciptakan perdamaian sejati di Palestina,” demikian keterangan Tausiyah MUI dalam surat Nomor: Kep-28/DP-MUI/III/2026.

Selain itu, PP Muhammadiyah mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengambil sikap dan mengambil tindakan tegas dengan memberikan sanksi kepada AS dan Israel karena menyerang Iran.

Kritik pun datang dari Persatuan Gereja-gereja se-Indonesia (PGI). Mengutip dari situs resminya, PGI sangat prihatin dengan eskalasi dan aksi militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah karena berpotensi memicu krisis global dan mendesak negara-negara terkait untuk menghentikannya.

Dalam pernyataan yang ditandatangani Jenderal Jacklevyn Frits Manuputty dan Sekjen Darwin Dharmawan, PGI menilai situasi ini telah menciptakan ketidakstabilan kawasan dan meningkatkan risiko meluasnya konflik antar negara.

“PGI mengecam berbagai tindakan militer yang dilakukan beberapa negara, antara lain keterlibatan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, konflik antara Pakistan dan Afghanistan, serta tindakan penanggulangan militer Iran di kawasan yang dianggap memperluas lingkaran terorisme dan mengancam keamanan internasional,” bunyi pernyataan PGI.

PGI juga menyerukan diakhirinya seluruh aksi militer dan mendorong PBB, lembaga internasional, pemerintah, dan komunitas global untuk memprioritaskan dialog dan mematuhi hukum humaniter internasional.

Tetap pada BoP, Dapat Dinilai

Namun berdasarkan informasi beberapa pihak yang bertemu dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada Selasa malam lalu, saat ini keanggotaan Indonesia di BoP masih berlanjut.

Selasa malam lalu, Prabowo mengundang mantan Presiden dan Wakil Presiden, mantan Menteri Luar Negeri, dan Pimpinan Partai Politik Parlemen itu ke Istana Kepresidenan di Jakarta. Pertemuan tersebut membahas eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Rapat berlangsung sekitar empat jam, dimulai pukul 19.30 WIB, dan para tamu undangan mulai berangkat sekitar pukul 23.30 WIB.

Usai pertemuan, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengatakan, Indonesia tetap berada di BoP. Kendati demikian, Paloh mengatakan, dalam situasi seperti ini, Prabowo tidak menutup diri untuk menilai kembali keanggotaan RI di DPR.

“Sampai saat ini kita mungkin masih pada posisi tersebut, kecuali nanti ada perkembangan dengan beberapa negara lain, kita akan menilai kembali arti keberadaan Indonesia di BoP bersama beberapa negara lain,” kata Paloh.

Paloh mengatakan, dalam pertemuan tersebut, Prabowo juga menjelaskan keputusannya untuk memasukkan RI ke dalam BoP.

“Beliau menekankan bagaimana menjaga politik yang bebas dan aktif, simpati dan empati yang besar terhadap bagaimana perjuangan rakyat Palestina ditegaskan kembali,” ujarnya.

Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda yang turut hadir di Istana mengatakan, Prabowo mengungkapkan peluang keberhasilan BoP berpotensi berkurang akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

“Tadi juga sudah disampaikan. Diulang lagi. Apalagi dengan perang di Iran, gagasan bahwa BOP dan misinya ditujukan untuk gencatan senjata, gencatan senjata, maka bantuan kemanusiaan, rehabilitasi, dan rekonstruksi bisa potensinya, potensi keberhasilannya menjadi berkurang,” kata Hasan usai pertemuan di Istana tadi malam.

Hasan mendapat kesan bahwa Prabowo juga mulai melihat bahwa keberhasilan BoP dalam mencapai misi perdamaiannya semakin menurun. Ia juga kembali menegaskan bahwa Prabowo sendiri siap mengevaluasi keanggotaan RI di BoP di tengah eskalasi konflik ini.

“Ada kesan itu, dan dari komunikasinya dengan kepala negara lain, khususnya negara-negara OKI, kesannya potensi keberhasilan BOP semakin menurun dan seberapa besar penurunannya, kita lihat perkembangannya,” ujarnya.

Hasan juga mengatakan, Prabowo masih mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam menjawab permasalahan tersebut.

“Langkah selanjutnya dari segi keputusan belum diambil. Beliau pasti akan mengevaluasi dan mengambil keputusan pada waktu yang tepat,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan, Prabowo telah menjalin komunikasi langsung dengan para pemimpin negara-negara di kawasan Teluk di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Negara-negara Teluk merupakan negara-negara di kawasan Timur Tengah yang dekat dengan Iran, seperti Arab Saudi, UEA, Oman, Kuwait, Qatar, dan Bahrain.

“Aku sudah menelepon. Aku sudah menelepon [pemimpin-pemimpin negara Timur Tengah]dan masih menunggu waktu MbS [Putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman]Kita belum bisa mencari waktu, kata Menteri Luar Negeri Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa pekan lalu.

Sugiono juga mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi dan mendorong pentingnya penyelesaian konflik di meja perundingan untuk menghentikan perang di Timur Tengah.

Iran pertama kali diserang Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari. Teheran kemudian melancarkan serangan balik terhadap Israel dan beberapa pangkalan militer AS di negara tetangga.

“Kemudian kami juga kembali menekankan pentingnya kembali ke meja perundingan,” kata Sugiono.

Sugi mengatakan, dalam komunikasinya dengan Aragchi, ia menyatakan sikap RI yang menyatakan prinsip menghormati kedaulatan wilayah suatu negara.

Selain itu, ia juga kembali menegaskan keinginan Prabowo untuk menjadi mediator konflik tersebut.

Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan awal ke ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Mereka melancarkan serangan di tengah perundingan nuklir terbaru antara Iran dan AS di Jenewa, Swiss.

Akibat operasi tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas. Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan pada hari Sabtu. Iran mengonfirmasinya keesokan harinya.

Di hari pertama peluncuran operasi AS-Israel, Iran langsung membalas serangan mereka.

Iran juga menanggapi serangan dalam skala yang lebih besar dibandingkan sebelumnya setelah kematian Khamenei. Mereka menargetkan pangkalan militer Israel dan AS di kawasan Timur Tengah.

(thr/anak/ugo)


Exit mobile version