Jakarta, Pahami.id —
tentara Amerika Serikat (AS) dilaporkan sedang mempersiapkan ‘operasi berkelanjutan selama berminggu-minggu’ di Iran jika Presiden Donald Trump mengarahkan serangannya.
Jika sampai terjadi, serangan ini berpotensi menjadi konflik yang lebih serius dibandingkan yang pernah terjadi antara kedua negara sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan beberapa pejabat AS kepada Reuters tanpa nama. Pengungkapan ini berisiko terhadap diplomasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.
Kedua negara bertemu di Oman pekan lalu untuk memulai kembali perundingan nuklir. Namun negosiasi masih alot dan akan memasuki putaran kedua dalam waktu dekat.
Trump juga dikabarkan berbicara dengan tim AS pada Jumat (13/2). Menurutnya, sulit mencapai kesepakatan dengan Iran.
“Terkadang Anda harus merasa takut. Itulah satu-satunya hal yang benar-benar dapat menyelesaikan situasi ini,” kata Trump.
Terkait hal ini, Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan Trump punya banyak pilihan terkait Iran.
“Dia [Trump) mendengarkan berbagai perspektif tentang setiap isu, tetapi membuat keputusan akhir berdasarkan apa yang terbaik untuk negara dan keamanan nasional kita,” ujar Kelly.
Pentagon juga menolak berkomentar saat ditanya tentang kemungkinan serangan.
Sebelumnya, Trump juga dilaporkan telah mengirimkan kapal induk terbesar di dunia USS Gerald R Ford ke wilayah Timur Tengah. Kapal itu akan meninggalkan Karibia dan menuju Timur Tengah dalam waktu dekat.
USS Gerald R Ford butuh waktu sekitar tiga pekan untuk tiba di Timur Tengah. Kapal itu akan bergabung dengan kelompok tempur USS Abraham Lincoln yang sudah mengepung Iran sejak Januari lalu.
Iran sudah menyatakan bersedia mengurangi pengayaan nuklir jika AS mencabut semua sanksi terhadap mereka. Namun, Iran menolak tuntutan soal rudal balistik dan dukungan untuk proksinya.
Trump sudah mengancam akan menyerang jauh lebih buruk dari sebelumnya jika Iran tetap keras kepala. Ia merujuk pada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.
(asr)

