Jakarta, Pahami.id —
Sejumlah media internasional menyoroti jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang pada Kamis (4/6) menyentuh Rp 18.000 per dolar AS.
Media Qatar Al Jazeera menyoroti situasi ini dan menggarisbawahi bahwa ini adalah yang terendah dalam sejarah Indonesia.
“Rupiah Indonesia telah mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS, menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah melonjaknya harga energi,” lapor Al Jazeera.
Al Jazeera memahami situasi tersebut dipicu oleh perang AS-Israel vs Iran, mengingat Republik Indonesia (RI) juga mengimpor energi ramah lingkungan, meski memiliki cadangan minyak dan gas yang besar.
“Tekanan terhadap neraca perdagangan telah berkontribusi terhadap arus keluar modal dan pelemahan mata uang,” kata laporan itu Al Jazeera.
media Hongkong Waktu Asia juga menyoroti situasi yang sama sambil menekankan bahwa hal ini terjadi karena pemerintah dan Bank Indonesia “bertindak terlalu lambat, ragu-ragu, dan tidak konsisten” terhadap situasi tersebut.
Dalam artikel bertajuk “Kekalahan Rupiah Indonesia Bukan Hanya Soal Dolar”, Asia Times mengamati, penurunan tajam nilai tukar rupiah yang terjadi selama dua bulan terakhir menunjukkan adanya permasalahan serius, yakni fenomena extreme overburden.
“Penurunan mata uang tidak lagi mencerminkan fundamental daya beli, namun mencerminkan ketidakseimbangan pasar yang disebabkan oleh kepanikan, pelarian modal besar-besaran, dan kurangnya likuiditas dolar di pasar lokal domestik,” tulis Asia Times.
“Krisis yang berkembang ini diperburuk oleh keterlambatan respons Bank Indonesia terhadap meningkatnya tekanan pasar. Bank sentral terlalu berpuas diri terhadap inflasi domestik yang moderat, yang turun menjadi 2,42 persen pada April 2026,” lanjut Asia Times.
Asia Times mengamati bahwa keputusan Bank Indonesia untuk mengadopsi instrumen non-suku bunga untuk menstabilkan rupiah gagal menghentikan devaluasi mata uang.
Senada, media Singapura The Straits Times juga memberitakan situasi rupiah yang mencapai rekor terendah baru seiring dengan anjloknya saham-saham Indonesia.
The Straits Times memahami bahwa hal ini menggarisbawahi kekhawatiran investor bahwa harga minyak yang terus-menerus tinggi akan mempengaruhi keuangan negara.
“Dalam beberapa minggu terakhir, kekhawatiran mengenai pengawasan pemerintah yang lebih ketat terhadap sektor komoditas utama juga telah mengurangi sentimen,” lapor The Straits Times.
Menurut media tersebut, pengumuman Presiden Prabowo Subianto bahwa pemerintah akan mengendalikan langsung ekspor beberapa komoditas penting juga memicu meningkatnya kecemasan pasar.
(blq/dna)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

