Jakarta, Pahami.id —
Walikota New York Zohran Mamdani memboikot pawai tahunan pro-Israel yang berlangsung di kotanya pada Minggu (31/5).
Mamdani menjadi walikota pertama New York yang menolak menghadiri Parade Hari Israel tahunan yang telah berlangsung selama 61 tahun terakhir.
Acara yang kerap dihadiri ribuan aktivis, politisi, dan simpatisan pro-Israel dan berlangsung di Fifth Avenue ini digelar untuk merayakan berdirinya negara Israel pada tahun 1948.
“Saya sudah mengatakan selama kampanye bahwa saya tidak akan menghadiri unjuk rasa tersebut, dan saya telah menyatakan pandangan saya terhadap pemerintah Israel dengan sangat jelas,” kata Mamdani dalam konferensi pers, Kamis pekan lalu.
Meski demikian, ia tetap menjanjikan pengamanan dari sejumlah besar aparat kepolisian untuk memastikan acara berjalan “lancar dan damai”.
Dua minggu lalu, kantor Mamdani bahkan merilis video memperingati Nakba, istilah Arab yang berarti “malapetaka” dan digunakan untuk memperingati tragedi pengusiran sekitar 700.000 warga Palestina dari tanah dan negaranya sendiri selama perang Arab-Israel tahun 1948.
Komisaris Polisi Kota New York Jessica Tisch, seorang Yahudi, masih menghadiri pawai tersebut.
“Itu adalah keputusan Walikota untuk tidak melakukan unjuk rasa, dan merupakan keputusan saya untuk melakukan unjuk rasa dengan bangga,” katanya pada hari Kamis sambil berdiri bersama Mamdani di markas polisi.
Ketidakhadiran Mamdani, meski diharapkan, kembali memicu kritik dari lawan-lawannya yang melihat kritiknya terhadap pemerintah Israel sebagai bentuk antisemitisme.
Delegasi dari pemerintah garis keras Israel, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, menghadiri pawai tersebut.
Selain Mamdani, Gubernur Amerika Serikat New York Kathy Hochul bahkan “mengecam keras” keikutsertaan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dalam pawai tahunan pro-Israel yang digelar di New York City pada Minggu (31/5).
“Bezalel Smotrich adalah seorang ekstremis sayap kanan yang retorikanya yang penuh kebencian dan memecah belah sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang kami junjung tinggi di New York,” kata Hochul dalam postingan di X seperti dikutip. Al Jazeera.
“Pawai kemarin adalah perayaan kebanggaan, komunitas, dan persatuan Yahudi. Saya mengutuk keras partisipasinya.”
Sebuah tamparan di wajah bagi orang-orang Yahudi di New York
Rabi Yahudi dan pendiri The Hampton Synagogue di Long Island, Rabbi Marc Schneier, menyebut keputusan Mamdani untuk memboikot acara tersebut sebagai “tamparan bagi semua orang Yahudi di New York.”
“Tolong bantu kami, tetaplah di rumah. Kami tidak membutuhkan kalian. Kami tidak menginginkan kalian,” ujarnya kepada para tamu yang memberikan ucapan selamat.
Namun, Schneier, presiden Foundation for Ethnic Understanding, juga mengkritik video Nakba Mamdani.
Menurutnya, video tersebut merupakan “propaganda” yang mengabaikan konteks pengusiran warga Yahudi pada periode tersebut.
Video tersebut, yang tampaknya merupakan pengakuan Nakba pertama dari seorang Wali Kota New York yang sedang menjabat, menampilkan kisah seorang wanita yang diusir dari rumahnya ketika dia berusia 9 tahun.
Video tersebut diselingi dengan teks tentang Nakba yang menggambarkan kerinduan wanita tersebut dengan mengatakan, “Bukit-bukit Palestina yang landai sungguh menyentuhku.”
“Saya sudah tinggal di banyak tempat, dan saya selalu merasa seperti orang luar,” kata perempuan bernama Inea Bushnaq itu.
Para pendukung Israel marah dan mengatakan bahwa video tersebut juga harus mengakui pengusiran massal orang-orang Yahudi dari negara-negara mayoritas Muslim atau peran pembunuhan massal orang-orang Yahudi dalam Holocaust yang mengarah pada berdirinya negara Yahudi.
Walikota New York, kota dengan populasi Yahudi terbesar di Amerika Serikat, dikenal sebagai pendukung kuat Israel dan sering mengunjungi negara tersebut.
Namun, dukungan terhadap Israel di kalangan warga Amerika telah menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir, sebuah tren yang semakin meningkat di tengah kemarahan atas agresi brutal, seperti pembantaian Israel di Jalur Gaza Palestina.
Mamdani, wali kota Muslim pertama di New York, tetap konsisten dalam advokasi pro-Palestina sejak lama, termasuk selama kampanyenya.
Ia mengatakan, ia yakin Israel punya hak untuk hidup, namun bukan sebagai sistem hierarki yang mengutamakan warga Yahudi.
Pada saat yang sama, ia juga berjanji untuk melindungi populasi Yahudi di New York dan menyoroti pekerjaan Kantor Pemberantasan Antisemitisme kota tersebut.
(rds)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

