Site icon Pahami

Berita Makin Tegang, Jepang Sita Kapal Ikan China kala Beijing Boikot Tokyo

Berita Makin Tegang, Jepang Sita Kapal Ikan China kala Beijing Boikot Tokyo


Jakarta, Pahami.id

Jepang membajak kapal nelayan Cina dan menahan kaptennya pada Jumat (13/2), dalam insiden yang berpotensi memperburuk hubungan kedua negara yang sudah tegang.

Badan Perikanan Jepang mengatakan kapal tersebut telah diperintahkan berhenti untuk diperiksa namun tidak patuh dan melarikan diri.


Akibatnya, kapten kapal ditangkap pada hari yang sama, kata agensi tersebut dalam pernyataannya, dikutip AFP.

Jepang menyatakan kapal tersebut berada di zona ekonomi eksklusifnya, sekitar 89,4 mil laut selatan-barat daya Pulau Meshima di Kepulauan Goto. Kawasan tersebut disebut bukan kawasan sengketa.

Kapten kapal tersebut diketahui merupakan warga negara Tiongkok, Zheng Nianli (47). Namun, status 10 orang lainnya di kapal bernama Qiong Dong Yu masih belum jelas.

“Kami akan terus mengambil tindakan tegas untuk mencegah operasi penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing,” kata juru bicara pemerintah Minoru Kihara.

Tokyo menegaskan akan terus mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas penangkapan ikan ilegal yang dilakukan kapal asing.

Tiongkok segera merespons penyitaan tersebut dengan mendesak Jepang untuk melindungi hak-hak awak kapal Tiongkok.

“Kami berharap Jepang benar-benar menghormati perjanjian perikanan Tiongkok-Jepang, menegakkan hukum dengan adil, dan melindungi keselamatan dan hak hukum serta kepentingan awak kapal Tiongkok,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian pada konferensi pers Jumat.

Insiden ini terjadi di tengah sengketa wilayah yang berkepanjangan antara kedua negara, termasuk ketegangan yang berulang di sekitar Kepulauan Senkaku.

Penangkapan seorang kapten kapal nelayan Tiongkok di wilayah tersebut pada tahun 2010 memicu krisis diplomatik yang besar.

Hubungan kedua negara juga semakin hangat akibat isu Taiwan. Perdana Menteri Sanae Takaichi sebelumnya mengatakan Jepang dapat mengambil tindakan militer jika Beijing menggunakan kekuatan untuk menguasai pulau tersebut.

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekerasan untuk merebutnya kembali.

Pernyataan Takaichi tersebut membuat Tiongkok marah dan memboikot beberapa komoditas Jepang ke negaranya.

Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te bahkan memperingatkan bahwa negara lain seperti Jepang dan Filipina bisa menjadi target berikutnya jika Beijing mengambil alih pulau tersebut.

“Negara-negara yang terancam berikutnya adalah Jepang, Filipina, dan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik, yang dampaknya akhirnya sampai ke Amerika dan Eropa,” kata Lai.

Di tengah ketegangan tersebut, Takaichi menegaskan Jepang akan memperkuat pertahanan dan melindungi wilayahnya, meski tetap terbuka terhadap kemungkinan dialog dengan Beijing.

Namun, Tiongkok bersikeras bahwa dialog harus didasarkan pada rasa saling menghormati dan menuntut Jepang mencabut pernyataannya terkait Taiwan.

(rnp/rds)


Exit mobile version