Site icon Pahami

Berita Laporan MSCI Perlu Pembanding agar Lebih Berimbang

Berita Laporan MSCI Perlu Pembanding agar Lebih Berimbang


Jakarta, Pahami.id

Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama beberapa hari terakhir kembali memicu perdebatan mengenai dominasi lembaga pemeringkat global di pasar saham Indonesia.

Tekanan terhadap bursa dipicu oleh langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berencana menghapus beberapa emiten besar dari peringkatnya.

MSCI mengatakan keputusan itu diambil karena adanya permasalahan free float, likuiditas riil, dan transparansi di beberapa emiten besar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kebijakan-kebijakan tersebut langsung mempengaruhi pergerakan pasar dan memicu fluktuasi yang tajam.


Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menilai dinamika tersebut menunjukkan kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia belum hilang sepenuhnya.

Menurut dia, pembalikan arah pasar di tengah tekanan jual asing sebenarnya merupakan sinyal bahwa pelaku pasar masih memandang positif prospek bursa Tanah Air.

Said menilai asesmen yang dilakukan MSCI terhadap beberapa emiten besar patut dibaca sebagai koreksi konstruktif.

Oleh karena itu, dia meminta agar otoritas bursa, Dewan Jasa Keuangan (OJK), dan pelaku pasar menjadikan pesan tersebut sebagai masukan untuk memperkuat basis pasar modal.

“Pihak-pihak tersebut hendaknya berbenah dan terbuka menerima koreksi konstruktif dari siapapun, terutama terkait perbaikan administrasi yang disarankan MSCI,” kata Said dalam keterangannya, Minggu (1/2).

Meski demikian, Said mengingatkan agar pemeringkatan MSCI tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan tanpa ada ruang untuk kritik dan perbandingan. Ia menekankan pentingnya kehadiran lembaga pemeringkat alternatif untuk melengkapi laporan MSCI, sehingga investor global memperoleh gambaran yang lebih seimbang mengenai keadaan pasar modal Indonesia.

“Dalam dunia usaha, praktik second opinion merupakan hal yang lumrah. Kita perlu agar investor mendapat kejelasan, dan saran benar-benar bisa menjadi acuan untuk membangun pasar yang sehat, bukan menjadi sindikat penggorengan saham,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dominasi lembaga tertentu dalam memberikan evaluasi seringkali membuat rekomendasinya dianggap sebagai “fatwa” yang diikuti tanpa syarat. Padahal, menurut Said, pasar seharusnya bekerja secara rasional, matematis, dan terbuka terhadap perbedaan pendapat.

OJK telah merilis beberapa lembaga pemeringkat yang dinilai handal dan dapat dipercaya, baik asing maupun dalam negeri, terkait pemeringkatan kredit. Sebut saja Fitch Ratings, Moodys, Standard and Poor, dan PT Kredit Rating Indonesia. Di Bursa, tidak banyak “pemain” pemeringkat seperti MSCI, seperti halnya di sektor kredit.

Berikutnya, Said mengingatkan, penilaian MSCI juga perlu dibaca dalam konteks kondisi pasar saham Indonesia yang masih tergolong dangkal. Saat ini jumlah investor saham dalam negeri hanya berkisar 19 juta, jauh dibandingkan New York Stock Exchange yang melibatkan sekitar 162 juta investor di Amerika Serikat.

Menurut dia, rendahnya tingkat masuknya investor erat kaitannya dengan belum meratanya literasi pasar modal, termasuk dalam hal administrasi dasar seperti yang disoroti MSCI. Hal ini, kata dia, harus menjadi perhatian serius bagi OJK dan otoritas bursa.

Di sisi lain, Said mengaku khawatir gejolak pasar yang dipicu rating MSCI justru berdampak besar bagi investor ritel, terutama yang baru memulai. Volatilitas yang tajam berpotensi menggerus modal kecil dan menimbulkan trauma yang pada akhirnya dapat menghambat upaya perluasan basis investor dalam negeri.

Oleh karena itu, dia menilai terlalu dini jika penilaian MSCI langsung dimaknai sebagai bukti adanya penguasaan saham oleh segelintir pihak tanpa bukti nyata. Menurut dia, diperlukan pencarian fakta yang jelas dan transparan sebelum mengambil kesimpulan lebih lanjut.

“Saran untuk membangun pasar yang sehat, bukan menjadi sindikat pialang saham.

Sementara pada Rabu (28/1), IHSG anjlok 7,3 persen dan memaksa otoritas bursa menerapkan trading halt. Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1), ketika IHSG anjlok hingga minus 8,5 persen sebelum berangsur pulih dan ditutup melemah 1,76 persen.

Gejolak ini diikuti dengan derasnya arus dana asing yang keluar dari pasar saham. Dalam waktu singkat, dana asing tercatat mencapai Rp 6,12 triliun. Namun data sementara menunjukkan nilai aksi beli mulai melebihi aksi jual dengan surplus sekitar Rp6,1 triliun, sedangkan nilai kapitalisasi pasar justru tercatat lebih besar dibandingkan hari sebelumnya.

(dalam)


Exit mobile version