Site icon Pahami

Berita Kubu Purbaya Klaim Bayar Listrik Keraton Solo Pakai Duit Pribadi

Berita Kubu Purbaya Klaim Bayar Listrik Keraton Solo Pakai Duit Pribadi


Jakarta, Pahami.id

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. berhenti sementara membayar tagihan listrik Keraton Surakarta sejak Januari 2026.

Penghentian sementara pembayaran tersebut tertuang dalam surat yang diketuai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo (Disbudpar).

Dalam surat tersebut, mereka meminta PLN tidak lagi memungut biaya listrik dari lima rekening milik Keraton Surakarta kepada Pemkot Solo. Total tagihannya sekitar Rp 19 juta.


Menanggapi sikap Pemkot Solo, Paku Buwono XIV Purbaya justru menyatakan membayar biaya listrik istana menggunakan dana pribadi.

Juru Bicara Paku Buwono

Dia mengatakan, tagihan tersebut dibayarkan menggunakan uang pribadi PB XIV Purbaya.

Singonagoro menjelaskan, pembayaran tersebut dilakukan setelah menerima salinan surat dari Pemkot Solo perihal penundaan pembayaran tagihan listrik Istana.

Sejauh ini sudah ada kerja sama atau bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) untuk membayar pasokan listrik Keraton sebagai Cagar Budaya. Namun, kemarin kami mendapat informasi bahwa Pemkot tidak lagi membayar,” ujarnya saat dihubungi awak media, Senin (2/3) seperti dikutip dari Momen Tenggara.

Disebutkannya, salinan surat Pemkot Solo kepada PLN telah diterima Purbaya pada Selasa (24/2). Sore harinya PB XIV Purbaya mengutus Kanjeng Dani untuk membayar tagihan tersebut.

Jadi suratnya dikirim pagi itu, sorenya langsung kita bayar. Sinuhun langsung kirim Kanjeng Dani, ujarnya.

Singonagoro ngotot membayar tagihan listrik bulan Januari menggunakan uang pribadi Paku Buwono XIV Purbaya.

“[Bayar] Gunakan kantong pribadi, bukan dana hibah. Iya lebih dari Rp 19 juta,” jelasnya.

Singonagoro mengatakan, di Istana Solo terdapat lima meteran listrik. Katanya, tagihan terbesar ada di Smarakata.

Baiklah yang terbesar adalah uang kertas yang digunakan di daerah Smarakata, meteran di Smarakata merupakan yang terbesar. Kalau nilainya per akun ya Tidak sama ada Rp 1 juta, paling tinggi Rp 5 juta, ada dua poin kalau Tidak salah “Salah satunya Smarakata,” jelasnya.

Soal tagihan listrik bulan Februari, dia mengaku belum membayarnya.

Ia mengaku menghormati keputusan Pemkot Solo yang menunda pembayaran tagihan listrik Istana Solo.

“Belum Februari. Tapi kalau Pemkot sudah mengambil keputusan seperti itu, maka kami tetap bertanggung jawab, Sinuhun bertanggung jawab. Karena pembayarannya bukan kali ini saja, tahun sebelumnya juga kami bayarkan,” jelasnya.

Penjelasan Pemerintah Kota Solo

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Solo Maretha Dinar Cahyono mengatakan, pihaknya menghentikan sementara pembayaran listrik Istana karena keterbatasan anggaran provinsi.

Ia mengungkapkan, total tagihan lima tagihan listrik milik Istana melebihi Rp 19 juta per bulan.

“Karena kapasitas anggaran kita masih rendah,” kata Maretha, Senin (2/3).

Selain kendala anggaran, penghentian sementara pembayaran juga disebabkan adanya dualisme terkait kepemimpinan di Istana Solo.

“Karena dualisme itu juga. Tapi prinsipnya karena keterbatasan,” ujarnya.

Maretha mengatakan, surat itu ditujukan kepada PT PLN. Namun Pemkot juga mengirimkan tembusannya kepada tiga pihak di lingkungan Istana, yakni KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, SISKS Pakubuwana XIV Hangabehi, dan SISKS Pakubuwana XIV Purbaya.

Maretha mengaku mendapat informasi tagihan listrik Istana Januari 2026 sudah dibayar. Namun, dia mengaku tidak mengetahui siapa yang membayar tagihan tersebut.

“Setelah menerima salinannya, pihak Istana datang dan datang untuk melunasi tagihannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Maretha menegaskan penghentian sementara ini hanya bersifat sementara. Rencananya Disbudpar akan mengajukan anggaran untuk membayar pasokan listrik Keraton Surakarta mulai April 2026.

“Kita serahkan Maret ini, mudah-mudahan April sudah bisa dibayar,” ujarnya

Baca berita selengkapnya Di Sini.

(anak/anak-anak)


Exit mobile version