Site icon Pahami

Berita Korsel Geram Gegara Jepang Gelar Acara Peringatan di Pulau Sengketa

Berita Korsel Geram Gegara Jepang Gelar Acara Peringatan di Pulau Sengketa


Jakarta, Pahami.id

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) melancarkan protes keras terhadap acara peringatan yang digelar pemerintah Jepang terkait sengketa gugusan pulau kedua negara, Minggu (22/2).

Seoul menyebut langkah Tokyo mengadakan acara peringatan tersebut sebagai klaim kedaulatan ilegal atas wilayahnya.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan dalam keterangan resminya menyatakan keberatan yang mendalam terhadap acara “Takeshima Day” yang diselenggarakan Prefektur Shimane.


Seoul juga mengkritik kehadiran pejabat tinggi pemerintah Jepang pada acara tersebut dan menyerukan agar acara tersebut segera dibatalkan.

Gugusan pulau kecil tersebut dikenal sebagai Takeshima di Jepang dan Dokdo di Korea Selatan. Meski secara administratif dikuasai oleh Korea Selatan, kawasan ini telah lama menjadi sumber ketegangan diplomatik yang berakar pada sejarah pendudukan Jepang di Semenanjung Korea pada tahun 1910-1945.

“Secara historis, geografis, dan berdasarkan hukum internasional, Dokdo jelas merupakan wilayah kedaulatan Korea Selatan,” tegas kementerian tersebut, seperti diberitakan Asia Satu.

Mereka meminta Jepang untuk menghentikan tuduhan tidak berdasar dan menghadapi sejarah dengan rendah hati.

Sebagai bentuk protes nyata, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan memanggil diplomat senior Jepang ke kantornya di Seoul untuk menyampaikan keberatannya secara langsung.

Hingga berita ini dimuat, Kementerian Luar Negeri Jepang dan Kantor Perdana Menteri Jepang belum memberikan komentar resmi.

Dalam acara ini, pemerintah pusat Jepang mengirimkan wakil menteri dari Kantor Kabinet, bukan menteri setingkat kabinet.

Ini bukan pertama kalinya ketegangan ini muncul pada awal tahun 2026. Pada tanggal 20 Februari, Seoul memprotes pidato Menteri Luar Negeri Jepang di parlemen yang menekankan kedaulatan Tokyo atas pulau tersebut.

Selain nilai sejarahnya, kawasan ini terletak di kawasan perikanan yang subur dan diperkirakan menyimpan cadangan gas alam hidrat dalam jumlah besar senilai miliaran dolar.
Perselisihan ini terus membayangi upaya normalisasi hubungan antara dua sekutu terpenting Amerika Serikat di Asia Timur.

(Wow)


Exit mobile version