Jakarta, Pahami.id —
Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. meminta pejabat dan instansi terkait segera mengambil langkah nyata mengatasi kemacetan parah di jalan tol Tol Jakarta-Tangerang yang semakin meresahkan masyarakat.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Rano Alfath mengatakan, fokus utamanya adalah memperbanyak truk yang mengambil jalur kanan, serta yang kelebihan beban dan dimensi yang tidak memenuhi standar ( Lebih Banyak Dimensi Lebih Banyak Beban/KEDOKTERAN GIGI). Kedua hal tersebut, kata Rano, berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya.
Laporan masyarakat menunjukkan bahwa beberapa truk sering menggunakan jalur kanan yang seharusnya digunakan kendaraan ringan untuk menyalip sehingga menimbulkan kemacetan, potensi kecelakaan dan kemacetan panjang, terutama pada jam sibuk, kata Rano dalam keterangannya, Sabtu (14/2) seperti dikutip dari di antara.
Ia mengaku banyak menerima keluhan masyarakat terkait truk yang mengambil jalur kanan di Tol Jakarta-Tangerang terkait keselamatan pengguna jalan.
Rano menegaskan jalur kanan bukan untuk kendaraan berat yang bergerak lambat.
Selain itu, ia menyoroti keberadaan truk ODOL yang masih bebas beroperasi di jalan raya termasuk masuk tol.
Menurut dia, praktik tersebut tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga mempercepat kerusakan infrastruktur jalan dan meningkatkan risiko kecelakaan fatal.
“Penertiban ODOL sudah lama kita bicarakan, namun praktiknya masih terjadi. Penegakan hukum tidak bisa setengah hati sehingga jika ada pelanggaran harus ada konsekuensi nyata,” ujarnya.
Rano juga menilai sebagian pengemudi truk terkesan tidak takut dengan sistem tilang elektronik (ETLE), seolah tidak ada efek jera.
Oleh karena itu, dia meminta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memperkuat penerapan ETLE, memastikan pembatasan benar-benar ditegakkan, dan menilai apakah ada kesenjangan dalam sistem pengawasan.
Dengan cara ini, ia berharap dapat menghilangkan persepsi bahwa pelanggaran bisa diabaikan begitu saja tanpa konsekuensi.
Jelang Ramadan – di mana mobilitas masyarakat cenderung meningkat – ia mendesak dilakukannya upaya preventif melalui rekayasa lalu lintas yang terukur.
Menurut Rano, opsi yang bisa dipertimbangkan antara lain pembatasan jam operasional kendaraan berat pada jam-jam tertentu, pemantauan intensif di tempat rawan, dan patroli rutin untuk memastikan truk tidak menggunakan jalur yang benar.
Ia juga meminta koordinasi yang lebih baik antara Polri, Kementerian Perhubungan, dan pengelola jalan tol agar kebijakan yang diambil tidak bersifat parsial, melainkan terintegrasi dan berkelanjutan.
Hanya perlu dilihat pengawasannya diperketat dan penegakan hukum dilakukan secara konsisten. Masyarakat menunggu langkah konkritnya, dan saya yakin aparat bisa menyikapinya dengan cepat dan terukur, kata Rano.
Ia juga mengingatkan, keresahan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena pemerintah harus hadir untuk memastikan jalan tol aman, tertib, dan berfungsi sebagaimana mestinya.
(antara/anak-anak)

