Jakarta, Pahami.id —
Serangan rudal hipersonik Oreshnik telah dilakukan Rusia ke Ukraina pada Minggu (24/5) pagi mendapat tanggapan dari Jerman dan Perancis. Kedua negara Eropa tersebut mengecam Rusia karena menggunakan Oreshnik, yaitu senjata yang mampu membawa ujung nuklir.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan serangan Rusia menargetkan warga sipil dan dia mengutuk penggunaan Oreshnik.
“Serangan Rusia terhadap sasaran sipil di Ukraina terus berlanjut… Prancis mengutuk serangan ini dan penggunaan rudal balistik Oreshnik,” tulis Macron dalam X.
Macron juga mengatakan serangan itu menandai “jalan buntu” bagi Rusia.
Reuters menjelaskan, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul dalam pernyataannya di X menggambarkan serangan tersebut sebagai sesuatu yang mengejutkan.
“Penggunaan Oreshnik merupakan kemajuan lebih lanjut,” tulis Wadephul.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan serangan Rusia menggunakan Oreshnik merupakan taktik menakut-nakuti.
“Laporan penggunaan rudal balistik jarak menengah Oreshnik oleh Moskow, sebuah sistem yang dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir, adalah taktik menakut-nakuti politik dan permainan nuklir yang sembrono,” kata Kallas.
Rusia sebelumnya mengkonfirmasi bahwa mereka telah menggunakan Oreshnik dalam serangan terbarunya yang disebut sebagai serangan ‘besar-besaran’ terhadap Ukraina.
“Menanggapi serangan teroris Ukraina terhadap infrastruktur sipil di wilayah Rusia, Angkatan Bersenjata Federasi Rusia melakukan serangan skala besar menggunakan rudal balistik Oreshnik, rudal balistik yang diluncurkan dari udara Iskander, rudal balistik hipersonik yang diluncurkan dari udara Kinzhal, dan rudal jelajah Tsirkon,” kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan.
Ukraina mengatakan mereka telah mencegat 549 drone dan 55 rudal.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Rusia menembakkan rudal hipersonik Oreshnik yang mampu membawa senjata nuklir.
(biaya)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

