Site icon Pahami

Berita Jaksa Agung Israel Nyatakan Demokrasi Menurun di Bawah Netanyahu

Berita Jaksa Agung Israel Nyatakan Demokrasi Menurun di Bawah Netanyahu


Jakarta, Pahami.id

Jaksa Agung Israel Gali Baharav-Miara memperingatkan akan menurunnya demokrasi negara di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu.

Ia juga menyatakan terjadi penurunan independensi lembaga peradilan dan eksekutif tidak memperhatikan putusan pengadilan.

“Seiring dengan berakhirnya masa Knesset, perlombaan untuk menghilangkan lembaga-lembaga demokrasi mulai terjadi,” kata Baharav-Miara dalam konferensi Israel Bar Association, Senin (1/6) dikutip dari AFP.


Knesset adalah istilah untuk parlemen atau badan legislatif unikameral Israel. Lembaga ini berbasis di Yerusalem dan memiliki 120 anggota. Mereka memegang kekuasaan tertinggi negara untuk membuat undang-undang, memilih presiden dan perdana menteri, dan mengawasi jalannya pemerintahan.

Dalam pernyataannya terkait kemunduran demokrasi Israel, Baharav-Miara secara khusus menyinggung dua rancangan undang-undang (RUU) yang sedang dibahas di parlemen.

RUU pertama bertujuan untuk memutus kewenangan Jaksa Agung. Hal ini dilakukan dengan memasukkan ketentuan dalam RUU yang menciptakan posisi “jaksa agung” yang diangkat oleh menteri kehakiman.

Kemudian, RUU kedua bertujuan untuk memberikan Menteri Keamanan Nasional – yang saat ini dipegang oleh tokoh sayap kanan Itamar Ben Gvir – kekuasaan yang lebih besar atas polisi.

Berbicara pada konferensi yang diadakan di kota Eliat, Israel selatan, Baharav-Miara juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai pengabaian pemerintah terhadap keputusan pengadilan.

“Dalam situasi di mana pemerintah mendesak agar keputusan pengadilan tidak dipatuhi, akan segera tiba saatnya keputusan pengadilan akan dianggap oleh masyarakat tidak mengikat,” kata sosok yang juga berperan sebagai penasihat hukum pemerintah Israel.

Baharav-Miara juga mengkritik kelalaian pemerintah Israel dalam menerapkan wajib militer bagi komunitas Yahudi ultra-Ortodoks. Baru-baru ini masyarakat dibebaskan dari wajib militer.

Mahkamah Agung Israel telah berulang kali menentang pengecualian tersebut dalam beberapa tahun terakhir, yang berpuncak pada keputusan tahun 2024 yang mendesak pemerintah Zionis harus mewajibkan dinas militer bagi pria ultra-Ortodoks.

Namun, Netanyahu mengandalkan dukungan partai-partai ultra-Ortodoks untuk menjaga pemerintahannya tetap hidup. Oleh karena itu, Netanyahu mengambil tindakan terhadap upaya untuk mengakhiri pengecualian tersebut.

“Secara hukum, tidak mungkin bekerja sama dalam situasi di mana, di satu sisi, pemerintah menambah beban bagi mereka yang bertugas, sementara di sisi lain pemerintah mengizinkan penghindaran wajib militer secara massal, dan ada yang mengatakan bahkan mendorongnya,” kata Baharav-Miara.

(afp/anak-anak)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google




Exit mobile version