Site icon Pahami

Berita Israel Hentikan Kerja MSF di Gaza karena Tak Setor Nama Staf Palestina

Berita Israel Hentikan Kerja MSF di Gaza karena Tak Setor Nama Staf Palestina


Jakarta, Pahami.id

Israel menyatakan akan menghentikan operasi organisasi relawan kemanusiaan Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontieres/MSF). Alasannya, Israel menyatakan bahwa badan amal medis internasional tidak menyimpan daftar nama staf PalestinaA mereka.

Sebelumnya, pada Desember 2025, Israel mengumumkan akan mencegah 37 organisasi bantuan internasional – termasuk MSF – beroperasi di Gaza mulai 1 Maret karena mereka belum menyerahkan daftar rinci pekerja Palestina mereka.


Ancaman tersebut mendapat kecaman luas dari PBB dan organisasi kemanusiaan internasional lainnya.

“Kementerian Urusan Diaspora dan Pemberantasan Antisemitisme berupaya menghentikan aktivitas Medecins Sans Frontieres (MSF) di Jalur Gaza,” demikian pernyataan kementerian, Minggu (1/2) seperti dikutip dari AFP.

Israel menekankan bahwa organisasi internasional yang beroperasi di Gaza harus menyerahkan daftar staf Palestina mereka.

“Persyaratan yang berlaku untuk semua organisasi kemanusiaan yang beroperasi di wilayah tersebut,” tambahnya.

Beberapa waktu lalu, Israel menuduh dua pekerja MSF memiliki hubungan dengan kelompok militan Hamas di Gaza. Namun MSF membantahnya.

Dalam sebuah pernyataan akhir pekan ini, Israel mengklaim MSF telah berkomitmen pada awal Januari untuk menyediakan daftar staf Palestina. Namun hingga akhir bulan, daftar nama personel yang dibutuhkan otoritas Zionis belum diserahkan oleh MSF.

Belakangan, Israel mengatakan MSF mengumumkan tidak berniat memberikan daftar nama tersebut. Hal ini, tegas rezim Zionis, “bertentangan dengan pernyataan dan protokol yang mengikat sebelumnya.”

Kementerian Israel kemudian menekankan bahwa MSF harus menghentikan operasinya di Palestina dan meninggalkan Gaza setidaknya pada 28 Februari.

Sementara itu, dalam keterangannya pada Jumat (30/1), MSF mengaku awalnya setuju untuk memberikan daftar nama staf Palestina kepada otoritas Israel. Namun hal tersebut tidak dilakukan karena Israel tidak memberikan jaminan konkrit bahwa hal tersebut tidak akan merugikan personelnya.

“Kami belum mencapai kesepakatan dengan pemerintah Israel mengenai jaminan konkrit yang diperlukan,” kata MSF dalam sebuah pernyataan.

“Ini termasuk informasi apa pun dari staf hanya akan digunakan untuk tujuan administratif yang dinyatakan, dan tidak akan merugikan rekan kerja.”

MSF mengatakan tanpa jaminan seperti itu, mereka “menyimpulkan bahwa kami tidak akan membagikan informasi personel dalam situasi saat ini”.

Organisasi relawan medis internasional tersebut menyebutkan 15 pekerjanya tewas selama agresi Israel terhadap Palestina, khususnya Gaza.

Sekadar informasi, MSF telah lama menjadi salah satu penyedia utama bantuan medis dan kemanusiaan internasional di Gaza. Apalagi sejak invasi besar-besaran yang dilakukan Israel terhadap Gaza sejak Oktober 2023 atau hampir tiga tahun lalu.

Badan amal tersebut menyatakan bahwa saat ini mereka menyediakan setidaknya 20 persen tempat tidur rumah sakit di wilayah tersebut dan mengoperasikan sekitar 20 pusat kesehatan. MSF menyatakan pada tahun 2025, mereka akan memberikan lebih dari 800 ribu perawatan medis, dan lebih dari 10 ribu bantuan persalinan.

Kelompok-kelompok bantuan memperingatkan bahwa tanpa dukungan internasional yang diberikan oleh organisasi-organisasi seperti MSF, layanan-layanan penting seperti perawatan darurat, kesehatan ibu dan perawatan anak bisa hancur total di Gaza, meninggalkan ratusan ribu penduduk tanpa perawatan medis dasar.

Seperti yang mereka lakukan terhadap MSF, pihak berwenang Israel telah berulang kali menuduh badan PBB untuk pengungsi Palestina atau UNRWA menyediakan perlindungan bagi militan Hamas. Tak hanya itu, rezim Zionis juga menuduh para pekerja UNRWA ikut serta dalam serangan Hamas di wilayah pendudukan Israel.

Namun, serangkaian investigasi, termasuk yang dipimpin oleh mantan Menteri Luar Negeri Prancis Catherine Colonna, menemukan bahwa Israel tidak memberikan bukti konklusif atas tuduhan utamanya terhadap UNRWA.

Israel justru menghancurkan gedung yang menjadi markas UNRWA. Salah satunya pada bulan lalu, ketika Israel menghancurkan markas UNRWA di Yerusalem Timur.

UNRWA kini telah dilarang beroperasi di Yerusalem Timur, namun terus beroperasi di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel.

(afp/anak-anak)


Exit mobile version