Site icon Pahami

Berita Iran Respons RI Jadi Negara Pertama Kirim Pasukan ke Gaza

Berita Iran Respons RI Jadi Negara Pertama Kirim Pasukan ke Gaza


Jakarta, Pahami.id

Duta besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi buka-bukaan soal laporan yang menyebutkan Indonesia akan menjadi negara yang mengirimkan pasukan ke Jalur Gaza, Palestina di bawah bendera Tim Stabilisasi Internasional (ISF).

Kesan tersebut disampaikan Boroujerdi usai memperingati Hari Nasional Iran dan Peringatan 47 Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran di Jakarta, Selasa (10/2) sore.

“Indonesia mengambil keputusan untuk kepentingannya sendiri. Saya tidak akan ikut campur dalam keputusan Indonesia. Saya menghormati semua keputusan yang diambil pemerintah Indonesia untuk rakyatnya,” kata Boroujerdi kepada awak media.


Namun, ia menekankan bahwa setiap negara memiliki kepentingannya masing-masing dan melakukan apa yang dianggapnya terbaik.

Keputusan tersebut, lanjut Boroujerdi, “tidak mempengaruhi persahabatan Indonesia dan Iran.”

Pada bulan November 2025, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengeluarkan resolusi yang mengusulkan agar Amerika Serikat membentuk BoP dan mengizinkan pengerahan pasukan ISF.

Dengan resolusi ini, BoP diberi wewenang untuk membentuk ISF yang dapat digunakan di bawah komando badan ini.

BoP akan diberi mandat untuk memerintah Gaza hingga akhir tahun 2027. Badan tersebut juga akan mengoordinasikan upaya rekonstruksi di daerah kantong tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Boroujerdi juga menyampaikan pandangannya mengenai Dewan Perdamaian. Duta Besar Iran tidak yakin Dewan Perdamaian akan berhasil dan memberikan solusi terhadap konflik Gaza.

“Saya tidak percaya Dewan Perdamaian akan berhasil. Namun saya tidak mengatakan bahwa itu adalah ide yang baik atau buruk,” kata Boroujerdi.

Iran adalah negara yang vokal dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan mengutuk invasi dan pendudukan Israel di wilayah tersebut. Bahkan Iran sudah beberapa kali terlibat perang dengan Israel sejak invasi di Gaza dimulai.

Sebelumnya media Israel, KAN, memberitakan Indonesia akan menjadi negara pertama yang mengerahkan pasukan internasional ke Gaza.

Hal ini bertepatan dengan rencana Presiden AS Donald Trump yang akan menggelar pertemuan pertama negara-negara anggota Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) di Washington pada 19 Februari mendatang.

Kabar pengerahan militer Indonesia ini muncul setelah Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara yang akan mengirimkan pasukan sebagai bagian dari ISF bersama Uni Emirat Arab, Italia, Azerbaijan, Pakistan, Qatar, Turki, dan negara lainnya.

Pasukan ISF, termasuk dari Indonesia, dikerahkan untuk menjaga dan memantau gencatan senjata dengan kemungkinan ikut serta menangani masalah di perbatasan, bukan untuk menghadapi atau melucuti senjata Hamas.

Misalnya, pasukan Indonesia bisa dikerahkan untuk memantau garis perbatasan di Khan Younis dan Rafah di Gaza selatan.

Secara terpisah, Kepala Biro Penerangan Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan RI, Brigjen Rico Ricardo Sirait mengatakan, upaya Indonesia untuk mendukung perdamaian, gencatan senjata, dan rekonstruksi di Gaza masih terus dipersiapkan.

Rico juga mengatakan Indonesia masih berkoordinasi dan menunggu mandat internasional dan keputusan resmi pemerintah.

Soal kabar Indonesia akan menjadi ‘negara pertama’ yang mengirimkan tim, kami belum bisa memastikan informasinya, jawab Rico saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Selasa (10/2).

“Urusan operasional – meliputi tanggal, nomor, mekanisme pemberangkatan dan lokasi penugasan – akan dikomunikasikan setelah ada keputusan resmi dan urusan misi akhir,” imbuhnya.

Sementara itu, dalam keterangan terpisah, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memperkirakan Indonesia akan mengirimkan sekitar 8.000 tentara ke Gaza.

[Gambas:Video CNN]

Prasetyo mengatakan, saat ini Indonesia masih mempersiapkan skema penempatan militer termasuk komposisi anggota dari masing-masing negara yang terlibat.

“Belum, sedang dibahas. Tapi kemungkinan kita (kirim) kurang lebih 8.000. Total (tentara) 20 ribu,” kata Prasetyo saat ditanya kapan pengiriman ini dilakukan.

Terkait lokasi penempatan militer termasuk soal penugasan di kawasan Rafah, Prasetyo menegaskan, pemerintah belum menentukan titik penempatan pastinya.

Saat ini Indonesia masih dalam tahap persiapan dan menunggu persetujuan internasional untuk dijadikan dasar pengiriman pasukan penjaga perdamaian.

“Belum. Kita hanya mempersiapkan diri jika suatu saat nanti tercapai kesepakatan dan kita harus mengirimkan pasukan perdamaian, tentu itu komitmen. Itu akan kita lakukan,” tegasnya.

(isa/dna)


Exit mobile version