Site icon Pahami

Berita Internet di Iran Mulai Pulih Sebagian Usai 88 Hari Padam

Berita Internet di Iran Mulai Pulih Sebagian Usai 88 Hari Padam


Jakarta, Pahami.id

Penghuni Iran Reaksi beragam muncul setelah akses internet di negara tersebut mulai pulih sebagian setelah mengalami pemadaman listrik secara nasional selama hampir tiga bulan.

Ada yang menyambut baik, namun banyak juga yang menanggapinya dengan sikap skeptis, hati-hati, bahkan sarkasme di media sosial.

“Iya, saya sudah terkoneksi, tapi saya masih perlu menggunakan VPN (Virtual Private Network). Jangan terlalu bersemangat dulu. Internet belum sepenuhnya terbuka, hanya saja belum padam total,” kata pria berusia 46 tahun di Teheran. CNNdikutip Kamis (28/5).


Warga lainnya juga mengungkapkan kekesalannya di media sosial karena merasa pemulihan akses terlambat dan belum benar-benar memulihkan kebebasan internet.

Seorang wanita Iran yang sebelumnya berpartisipasi dalam protes anti-pemerintah menulis di media sosial X bahwa pemerintah hanya memulihkan “filternet”, sebuah istilah untuk internet yang telah disensor atau diblokir.

Ia menyindir pemerintah yang melebih-lebihkan pengembalian konektivitas internet dasar.

“Semua keributan ini hanya untuk koneksi internet dasar,” tulisnya.

Badan pemantau internet NetBlocks menyatakan aktivitas internet di Iran mulai pulih sebagian pada Selasa (26/5).

Menurut media pemerintah yang mengutip Kementerian Komunikasi Iran, pemulihan tersebut terjadi setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian memerintahkan pihak berwenang untuk memulihkan akses internet.

NetBlocks menyebut pemulihan ini terjadi pada hari ke-88 sejak pemadaman listrik diterapkan. Mereka mengatakan langkah ini bisa menandai awal dari berakhirnya pemadaman listrik terlama yang pernah terjadi di negara mana pun dalam sejarah modern.

Iran mulai memblokir akses internet pada akhir Desember 2025. Pembatasan tersebut terjadi setelah demonstrasi massal yang dipicu oleh melonjaknya inflasi, jatuhnya nilai tukar mata uang, dan krisis ekonomi yang semakin parah.

Ketika demonstrasi berkembang menjadi tuntutan perubahan politik, pemerintah memperketat pembatasan.

Pada akhir Februari, di tengah serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel, akses internet di Iran hampir terputus seluruhnya.

Meski kini mulai pulih, NetBlocks mengatakan sistem sensor internet di Iran masih aktif. WhatsApp disebut masih terbatas dan hanya bisa diakses dengan alat tertentu.

Pemulihan yang tertunda ini menyoroti betapa ketatnya kontrol akses internet di Iran.

Regulasi internet di Iran berada di bawah pengawasan beberapa lembaga negara dan pada akhirnya bertanggung jawab kepada pimpinan tertinggi.

Salah satu lembaga utama yang mengatur kebijakan ini adalah Dewan Tertinggi untuk Dunia Siber yang dibentuk pada tahun 2012 oleh Ayatollah Ali Khamenei.

Badan tersebut terdiri dari tokoh-tokoh politik, peradilan, intelijen, dan agama senior yang memiliki pandangan berbeda mengenai sejauh mana akses masyarakat Iran terhadap dunia luar.

Di tengah pembatasan tersebut, kesenjangan akses internet di Iran juga semakin terasa.

Sejumlah kecil warga menggunakan perangkat Starlink yang diselundupkan secara ilegal untuk terhubung langsung ke internet. Yang lain mengandalkan VPN berbayar yang mahal.

Sementara itu, sebagian besar masyarakat masih menghadapi keterbatasan dan ketidakpastian akses.

Meskipun demikian, beberapa warga Iran memanfaatkan kembalinya akses internet yang terbatas untuk kembali aktif di media sosial.

Sejumlah warga di Teheran dan kota-kota lain dilaporkan mulai mengunggah foto selfie di Instagram untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.

Bagi mereka, unggahan tersebut merupakan simbol kecil yang setelah sekian lama dibungkam, mereka ingin melihatnya kembali.

(dhz/mikrofon)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google




Exit mobile version