Site icon Pahami

Berita ICE Tembak Mati Perawat Alex Pretti Secara Brutal di Minneapolis


Jakarta, Pahami.id

Petugas imigrasi Amerika Serikat (ICE) menembak mati seorang warga AS di Minneapolis, Minnesota, bernama Alex Pretti, pada Sabtu (24/1). Insiden tersebut menuai protes dan kritik keras dari para pemimpin setempat dan merupakan insiden kedua pada bulan ini.

Dikutip dari Reuters, Pretti adalah perawat ICU di rumah sakit lokal di Minneapolis. Dalam video yang viral di media sosial, Pretti awalnya memfilmkan petugas ICE yang mengusir perempuan pengunjuk rasa.

Seorang agen kemudian terlihat menyemprotkan merica pada Pretti dan dua orang lainnya. Beberapa agen kemudian berusaha menahan Pretti, berusaha memukulinya, dan akhirnya melepaskan beberapa tembakan ke arah Pretti.


Departemen Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security) AS mengatakan petugas ICE terpaksa menembak karena Pretti membawa senjata api. Namun, Kepala Polisi Minneapolis Brian O’Hara mengatakan Pretti adalah pemilik senjata sah dan tidak memiliki catatan kriminal selain pelanggaran lalu lintas.

Homeland Security, badan induk ICE dan patroli perbatasan, mengatakan Pretti dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Mereka menyebut para pengunjuk rasa sebagai “massa” dan mengatakan ada sekitar 200 orang di lokasi kejadian di selatan Minneapolis yang mencoba “menghalangi dan menyerang penegakan hukum.”

Gubernur Minnesota Tim Walz menggambarkan kejadian itu sebagai hal yang menjijikkan. Walz menyerukan penyelidikan oleh pemerintah negara bagian.

“Saya telah melihat video tersebut dari beberapa sudut dan itu menjijikkan. Pemerintah federal tidak dapat dipercaya untuk memimpin penyelidikan ini – negara bagian akan menanganinya,” kata Walz.

Walz dan pejabat negara lainnya sudah berselisih dengan pemerintahan Presiden Donald Trump terkait penembakan warga AS lainnya oleh ICE bulan ini.

Seorang wanita bernama Renee Good ditembak dan dibunuh oleh petugas ICE pada 7 Januari. Pemerintahan Trump kemudian menolak mengizinkan pejabat lokal untuk berpartisipasi dalam penyelidikan insiden tersebut.

Kematian Pretti saja telah membawa ratusan pengunjuk rasa ke lingkungan tersebut untuk menghadapi agen bersenjata dan bertopeng, yang kemudian menembakkan gas air mata. Polisi kota dan polisi negara bagian kemudian mengendalikan massa. Situasi mereda setelah petugas ICE meninggalkan lokasi.

“Tolong jangan hancurkan kota kami,” kata O’Hara.

(hari/bulan)


Exit mobile version