Site icon Pahami

Berita Hubungan China-Iran Jadi Sorotan di Tengah Konflik Timur Tengah

Berita Hubungan China-Iran Jadi Sorotan di Tengah Konflik Timur Tengah

Daftar isi



Jakarta, Pahami.id

Hubungan militer dan teknologi antara Cina Dan Iran kembali menjadi sorotan di tengah konflik terkini di Timur Tengah, terutama menjelang rencana pertemuan antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Beijing pekan ini.

Sejumlah laporan intelijen Barat menyebutkan bahwa Beijing terus membantu Iran melalui transfer teknologi pertahanan, intelijen, dan komponen senjata, meski China secara resmi membantah memasok senjata langsung ke Teheran.

Namun, di saat yang sama, China juga dinilai berhati-hati agar tidak merusak hubungannya dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain yang terkena dampak serangan rudal Iran dalam konflik saat ini.


Beberapa laporan tersebut menyebutkan bahwa sebagian rudal Iran menggunakan teknologi yang berasal dari Tiongkok atau dikembangkan dari transfer teknologi Beijing.

Selain faktor geopolitik regional, Beijing juga disebut-sebut berupaya menjaga hubungan dengan Washington jelang pertemuan Xi dan Trump. Perlambatan ekonomi dalam negeri membuat Tiongkok dipandang tidak bersedia memicu perang tarif baru dengan AS.

“Bagi Beijing, akses ke pasar AS lebih penting dibandingkan memperkuat basis Tiongkok di Iran,” kata laporan itu.

Namun, laporan intelijen AS mengatakan Tiongkok masih membantu Iran dalam bidang intelijen, pengawasan, teknologi drone, dan pengembangan rudal.

Penyitaan kapal Iran oleh pasukan AS di Teluk Oman pada 19 April, yang diduga membawa barang-barang serbaguna dari Pelabuhan Gaolan Tiongkok, dikatakan menunjukkan semakin besarnya perhatian Washington terhadap jalur pasokan ini.

Dugaan Distribusi Senjata

Tiongkok dikenal sebagai pemasok utama senjata konvensional ke Iran pada tahun 1980an, namun telah mengurangi pengiriman langsung setelah resolusi Dewan Keamanan PBB pada tahun 2015 memperketat pengawasan internasional.

Sejak saat itu, kerja sama keamanan lebih mengarah pada transfer teknologi yang dapat digunakan untuk tujuan sipil dan militer.

Laporan itu menyebutkan komponen Tiongkok seperti sensor, semikonduktor, dan konverter tegangan ditemukan di drone Iran.

Beijing juga disebut membantu Iran melalui sistem pengawasan dan intelijen terkait pergerakan militer AS di kawasan Teluk.

Kini muncul laporan bahwa Tiongkok sedang bersiap mengirim sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa minggu mendatang.

Menurut laporan intelijen AS, Beijing diduga mengatur rute pengiriman melalui negara ketiga untuk menyamarkan asal usul senjata tersebut.

Salah satu sistem yang disebut akan dikirimkan adalah MANPADS atau rudal pertahanan udara bergerak yang dapat mengancam pesawat militer AS yang terbang rendah.

Poros Otokrasi

Presiden Trump sendiri memperingatkan bahwa Tiongkok akan berada dalam “masalah besar” jika mereka memasok rudal-rudal ini kepada Iran.

Trump juga mengungkapkan bahwa jet tempur F-15 AS yang jatuh di Iran pada awal April mungkin ditembak jatuh dengan rudal pencari panas.

Iran sebelumnya mengaku telah menggunakan sistem pertahanan udara baru untuk menjatuhkan pesawat tersebut, namun tidak menjelaskan di mana sistem tersebut digunakan.

Selain dukungan militer langsung, laporan tersebut menyoroti peran teknologi satelit Tiongkok dalam membantu operasi Iran.

Sebuah satelit yang dikembangkan oleh perusahaan swasta Tiongkok dan diluncurkan pada tahun 2024 dikatakan telah diambil alih oleh IRGC Aerospace Force tahun lalu.

Selama konflik, Iran dilaporkan menggunakan satelit tersebut untuk memantau posisi militer AS di Timur Tengah, termasuk pangkalan udara di Arab Saudi, Bahrain, Yordania, dan Irak.

IRGC juga dikatakan telah memperoleh akses ke jaringan stasiun bumi milik perusahaan layanan satelit yang berbasis di Beijing.

Menurut penilaian intelijen Barat, kecil kemungkinan perusahaan Tiongkok dapat memberikan akses strategis seperti itu tanpa persetujuan pemerintah pusat.

Laporan Komisi Peninjau Ekonomi dan Keamanan AS-Tiongkok bahkan menggambarkan hubungan Tiongkok-Iran sebagai bagian dari “poros otokratis”.

Kerja Sama Militer Iran-Tiongkok

Tiongkok dikatakan membantu Iran menghindari sanksi AS dan mempertahankan aktivitas geopolitiknya di Timur Tengah, sementara Iran memasok minyak murah dan mendukung upaya Beijing untuk menantang tatanan global yang dipimpin AS.

Namun, Beijing dipandang tetap berhati-hati untuk tidak terlibat terlalu terbuka dalam kerja sama pertahanan resmi dengan Teheran.

Selama ini kerja sama militer secara langsung lebih banyak dilakukan melalui latihan gabungan trilateral atau multilateral.

Laporan Reuters pada 24 Februari 2026 juga menyebutkan bahwa Iran hampir mencapai kesepakatan untuk membeli rudal anti-kapal CM-302 buatan China.

Rudal supersonik dengan kecepatan Mach 3 dan jangkauan sekitar 290 kilometer ini dianggap sebagai game changer di kawasan Teluk karena mampu mengancam kapal perang AS.

Selain itu, drone Shahed-136 Iran juga disebut-sebut sangat bergantung pada komponen impor antara lain elektronik, mesin, baterai, dan semikonduktor yang sebagian besar berasal dari AS, Eropa, Jepang, dan China.

Menurut laporan tersebut, berbagai komponen yang terkena dampak sanksi biasanya ditransfer ke Iran melalui distributor dan perusahaan dagang di Tiongkok.

(tim)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google




Exit mobile version