
Jakarta, Pahami.id —
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengancam akan menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat (AMERIKA SERIKAT).
Dalam pernyataannya pada 17 Februari di kota Tabriz, Khamenei mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menggembar-gemborkan pengiriman kapal perang ke Iran.
Trump, kata dia, terus mengklaim memiliki kekuatan militer terkuat di dunia padahal kekuatan terkuat pun bisa dihancurkan dengan senjata yang tepat.
“Tentu saja kapal perang adalah aset militer yang berbahaya. Namun yang lebih berbahaya dari kapal perang adalah senjata yang dapat menenggelamkan kapal perang hingga ke dasar laut,” kata Khamenei dalam pidato yang dimuat di situs resminya.
Khamenei mengatakan Trump mengakui selama 47 tahun AS belum mampu melenyapkan Iran.
“Dia mengeluh kepada rakyatnya bahwa selama 47 tahun, AS tidak bisa melenyapkan Republik Islam. Pernyataan itu benar. Saya bilang, ‘Kalian tidak akan bisa melakukan hal seperti itu’,” ujarnya.
Khamenei berbicara seperti ini ketika AS dan Iran bentrok baru-baru ini.
Trump mengancam akan menyerang Teheran jika negara itu tidak segera mencapai kesepakatan nuklir. AS dan Iran saat ini sedang melakukan negosiasi mengenai program nuklir Teheran, dan AS menuntut agar Iran menghentikan semua pengayaan uraniumnya.
Iran telah berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan sipil. Iran dilaporkan siap mengurangi pengayaan uranium jika AS mencabut seluruh sanksi ekonomi terhadap mereka.
Dalam pidato yang sama, Khamenei menyinggung perundingan tersebut. Khamenei menilai AS tidak masuk akal dan terlalu intervensionis karena mempertanyakan industrialisasi negara lain padahal itu adalah hak setiap bangsa dan negara.
“Industri nuklir kita yang damai bukan untuk perang. Ini untuk menjalankan negara, untuk pertanian, kedokteran, layanan kesehatan, energi, dan untuk segala sesuatu yang bergantung pada energi. Bangsa Iran sibuk melakukan urusannya sendiri, apa hubungannya dengan Anda?” kata Khamenei.
“Ketika dikatakan, ‘Ini adalah hak kami yang tidak dapat disangkal’, hal ini juga tertuang dalam perjanjian dan pedoman Badan Energi Atom Internasional itu sendiri. Artinya semua negara berhak memiliki fasilitas nuklir di dalam wilayahnya, bahkan fasilitas pengayaan. Ini adalah hak suatu negara, mengapa AS harus ikut campur?” katanya lagi.
Khamenei juga menyinggung tuntutan AS terkait penghentian program rudal balistik Iran. Menurutnya, klaim tersebut tidak masuk akal karena setiap negara pasti memiliki senjata untuk keperluan pertahanan.
“Kita harus punya senjata pencegah. Kalau suatu negara tidak punya senjata pencegah maka negara itu akan hancur di bawah kaki musuh-musuhnya. Senjata pencegah adalah sesuatu yang sangat diperlukan negara kita. AS tidak berhak ikut campur dalam hal ini,” tegasnya.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat dalam beberapa hari terakhir. Trump telah menambah armada perang di Timur Tengah untuk memperkuat kapal induk USS Abraham Lincoln, yang telah bersiaga sejak Januari.
Pada Jumat (20/2), kapal induk USS Gerald R Ford dikabarkan terlihat di perairan Mediterania. Kapal induk terbesar di dunia dikirim Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Trump mengancam akan melancarkan serangan terbatas terhadap Iran jika perundingan nuklir gagal mencapai kesepakatan.
Sementara itu Iran menegaskan akan menyerang pangkalan AS di Timur Tengah jika diserang. Iran juga menegaskan bahwa perundingan masih berjalan sebagaimana mestinya.
(blq/dna)
